Sejak mengetahui bahwa Rangga dan Nadia bekerja di satu gedung sama,
mendadak Aini menjadi sering merasa cemas belakangan ini, padahal jelas-jelas kantor
mereka memang berbeda dan juga berbeda lantai. Entahlah, tidak jelas apa yang
dicemaskannya. Rangga mungkin pernah mengagumi Nadia dan menaruh harapan
kepadanya, tapi itu dulu, sudah lama sekali. Dan sekarang ia telah menjadi
suamiku. Aini mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa memang tidak terjadi
apa-apa dengan mereka berdua, hanya ketakutan yang tak beralasan dan mungkin
kecemburuannya saja yang terlalu berlebihan. Tapi
mungkin saja kisah lama itu terulang kembali, karena seringnya bertemu,
bertatap muka, bersenda gurau atau ..
''Astaghfirullahal adziim ..”, lagi-lagi
Aini beristighfar, mengapa aku bisa berprasangka buruk pada suamiku sendiri,
padahal ia sudah begitu baik kepadaku. “Faaghfirlii yaa Robb ..”, batin Aini.
"Ummi ..”, tiba-tiba si sulung Ayyash memanggil. “Ada
Pak Hanif temen abi”. Mendengar suara anak laki-lakinya itu Aini beranjak dari tempatnya
dan menemui tamu dimaksud yang sudah berdiri di depan pintu
"Maaf Bu Aini, saya cuma mau ngasih
ini, susunan acara buat kajian dhuha Ahad pagi besok lusa di masjid. Ustadz yang
ngisi acara juga ada disitu, tinggal dihubungi lagi. Tadi pas sholat subuh di
masjid mau ngasih kelupaan, lagi
buru-buru soalnya. Tolong disampaikan ke Pak Rangga ya Bu .. ”, laki-laki itu
menyodorkan sebuah kertas.
“Ohh “
“Sore ini saya juga mau berangkat ke Makassar sama ibu saya, jadi Ahad
nanti saya tidak bisa mengikuti
acaranya”
“Ohh begitu, terima kasih ya Pak, salam untuk ibunya”. Setelah pamit, lelaki itu pun berlalu dari
pandangan Aini. Ia lalu teringat akan sesuatu, dan tiba-tiba ia senyum-senyum
sendiri.
Sejak istrinya meninggal dua tahun yang lalu, Hanif hanya tinggal bersama
ibunya. Ia juga belum memiliki buah hati seperti Rangga dan Aini. Sama seperti
Rangga, Hanif juga salah satu orang di sekitar rumahnya yang aktif mengurus masjid.
Dulu memang Rangga yang mengusulkan agar ada kajian di masjid ini, seperti
kajian waktu dhuha, pembahasan fiqh, shirah nabawiyah dan lain-lain yang
diselang-seling setiap minggunya. Akhirnya Rangga mengusulkan kepada para
pengurus masjid itu, agar ada kegiatan-kegiatan yang bisa meramaikan masjid
sekaligus sebagai sarana untuk meningkatkan pengetahuan tentang keislaman bagi
para jamaah. Memang agak sulit awalnya, karena para pengurus masjid itu
rata-rata orang tua yang kadang pemikirannya berbeda dengan orang yang masih
muda seperti Rangga. Tapi alhamdulillah, akhirnya kegiatan-kegiatan tersebut
perlahan bisa dilaksanakan.
Hari Minggu sore yang cerah adalah saat semua anggota keluarga berkumpul
menikmati hari libur. Tampak Ayyash yang sedang bermain-main dengan Aisha di
teras rumah. Dan jika Ayyash menggodanya, ia pun akan berlari kepada abinya
sambil menangis, minta dipangku dengan manja sambil menceritakan kejahilan
kakaknya. Sang kakak cekikikan sambil terus meledeknya dari jauh. Sedangkan
Fikri saat ini sedang menginap di rumah orang tuanya.
“Masih suka ketemu sama Nadia Mas”, tanya Nadia sambil menuang teh hangat
ke dalam cangkir.
“Nadia itu siapa mi?”, tanya Ayyash yang mendengar percakapan mereka,
seperti biasa jika ada nama yang baru dia dengar ia akan segera menanyakannya.
“Nadia itu, teman abi waktu sekolah dulu”, Aini menjawab sambil melirik
suaminya yang asik membaca koran. Ayyash
mainnya di luar dulu sama Aisha yah, jangan digodain terus adiknya”.
“Ok deh Ummii .. ”.
“Kadang-kadang aja, ga sering”, jawab Rangga tanpa menatap wajah
istrinya. Rangga sebenarnya tau bahwa istrinya belakangan ini sedang dilanda
kegundahan dan juga kecurigaan karena dirinya dan juga Nadia. Meskipun tidak
banyak sikap Aini yang berubah, ia bisa merasakannya. Tapi Rangga tetap
bersikap tenang, dan berpura-pura tak mengetahuinya, karena memang tidak ada
apa-apa lagi antara dirinya dan Nadia.
“Mas, kapan-kapan nanti undang Nadia ya kesini, ada yang pengen
diomongin”, lanjut Aini tiba-tiba.
“Masya Allah, kamu serius?? Kamu sangat yakin untuk hal itu ??”, Rangga
yang sedari tadi hanya memandangi koran yang dibacanya akhirnya menatap Aini
dengan cukup kaget dan tidak percaya.
“Sangat yakin untuk hal itu apa sihh?”
“Lho, maksudmu bukannya....”
“Kamu jangan kegeeran gitu ya Maasss”, kata Aini sambil mencubit lengan
suaminya. “Emangnya mau ngapain ..”
“Ohh, hehe kirain ...”, kata Rangga sambil cengengesan. “Aku kan cuma
berprasangka baik sama kamu sayang, lagian Mas juga ga percaya kalo kamu ..
hehehehe”, Rangga kembali tertawa. Tapi sesaat kemudian akhirnya ia berhenti juga
tertawa, sadar bahwa leluconnya itu tidak lucu sama sekali bagi Aini, karena
melihat istrinya yang cuma diam, nyaris cemberut tidak merespon sedikitpun.
“Baiklah adindaku, sebenarnya apakah gerangan yang ingin adinda sampaikan
pada Nadia, kakanda jadi sangaatt penasaran”, ujar Rangga mencoba mencairkan
suasana. Dan mendengar kata-kata Rangga barusan, akhirnya Aini pun jadi tak
kuasa menahan senyumnya.
“Begini lho mas ..”, Aini mulai serius menjelaskan. “Mas kan pernah
cerita waktu itu, kalo Pak Hanif sudah mau cari pendamping lagi sekarang.
Gimana kalau kita kenalin aja sama Nadia, ya siapa tau aja mereka berjodoh”, ujar
Aini dengan wajah berseri-seri
“Oooo .. itu toh yang mau
disampein”.
“Pak Hanif itu, selain namanya yang Hanif, orangnya juga memang hanif, ya
kan Mas .. Ke masjidnya rajin, sayang sama orang tua, orangnya juga santuunn,
insya Allah cocok banget Mas sama Nadia”, Aini bersemangat meyakinkan suaminya.
“Kamu ngomongnya udah kayak orang
tua aja yang lagi nyari menantu buat anaknya”.
“Hehe .. kan biar Mas yakin juga“, kini Aini yang tertawa. Kita kan
memang sudah orang tua suamiku, dan suatu saat nanti aku pun berharap anak-anak
kita mendapatkan pasangan-pasangan yang baik dariNya. Aini bergumam dalam hati.
“Hmmm .... baiklahh, insyaAllah nanti Mas sampein”, Rangga
akhirnya mengiyakan keinginan istrinya itu. “Tapi ada syaratnya yah .. bikinin
Mas nasi goreng yang spesial bingiittss. Udah lama ga makan nasi goreng
buatanmu“
“Ok deeeh .. suamiku yang ganteng nan baik hati, nasi goreng spesial akan
segera dibuat spesial untukmuh dari dirikuh” :p
No comments:
Post a Comment