Apa kabar jodohku?
Aku harap dirimu baik-baik saja saat ini
sehat, tidak kurang suatu apapun
Dan tetap bersemangat,
apapun suasana hatimu saat ini
Tapi, jika saat ini dirimu sedang diuji dengan sakit
aku harap, Dia Yang Maha Segalanya memberimu kesembuhan
apapun sakit yang kau rasakan
Dan akupun berharap agar engkau tetap bersabar atasnya
Bukankah setiap sakit yang kita rasakan, walau hanya karena tertusuk duri
akan menjadi penggugur dosa kita
jika kita memang sabar dan ikhlas menerimanya
Jodohku ...
Semoga Allah selalu menjaga dan melindungimu,
meskipun hingga detik ini
diriku masih belum mengetahui
siapa dan dimana keberadaanmu
Jodohku ...
Tahukah engkau,
bahwa aku sangat merindukanmu
Aku selalu berharap agar engkau segera datang menemuiku,
dan menjemputku
Resah dan gelisah selalu menghampiri
jika memikirkan dirimu
Dan jujur saja, terkadang aku merasa lelah menunggumu
penantian ini seakan tak berujung
Sampai-sampai aku berharap,
saat menatap langit
dan melihat satu bintang yang bersinar
Kemudian bintang itu jatuh persis di hadapanku
lalu berubah menjadi dirimu dalam sekejap
Sehingga dengan begitu, aku tidak perlu lagi 'mencari-cari' dirimu
Tapi itu memang sungguh tidak mungkin
Jodohku, calon qowwamku ...
Selain untuk orang-orang yang aku sayangi,
akupun selalu mendoakanmu
Mudah-mudahan kaupun seperti itu
Dan aku harap kita tetap saling mendoakan,
karena hanya dengan doa kita bisa saling menguatkan
Jodohku...
Jangan pernah berfikir
bahwa aku adalah wanita paling sempurna yang akan kau temui
Sama seperti makhlukNya yang lain,
akupun tak luput dari kekurangan
Yang bisa kulakukan adalah berusaha untuk menjadi yang terbaik bagimu
Sebaliknya, aku selalu memohon padaNya
bahwa engkau adalah yang terbaik
yang kelak Ia karuniakan padaku
untuk hidupku
dunia dan akhiratku ....
Jodohku ...
Walau mungkin kita tak pernah saling mengenal
bahkan saling melihat sebelumnya,
aku yakin,
Allah akan mengkaruniai rasa cinta dan sayang itu ke dalam hatiku
yang akan tulus kuberikan padamu
bila saatnya memang telah tiba,
saat diriku benar-benar talah menjadi halal bagimu
Bertafakur bersamamu dan bersujud padaNya
di keheningan sepertiga malam
Mendengarkanmu melantunkan ayat-ayat cintaNya
Mengaminkan setiap doa yang lirih kau panjatkan
Sungguh, aku sangat merindukan saat-saat itu bersamamu
Jodohku .....
T_T
31122011
7.30 pm
Saturday, December 31, 2011
Thursday, December 29, 2011
Tuesday, December 20, 2011
I just wanna be ...
I just wanna be
a sholihah daughter for my parents
a sholihah wife for my husband (someday)
a sholihah mother for my children (someday)
that's all
bi idznillaah ...
a sholihah daughter for my parents
a sholihah wife for my husband (someday)
a sholihah mother for my children (someday)
that's all
bi idznillaah ...
Thursday, December 15, 2011
Doaku untuk kalian yang kusayang
Lima hari yang lalu adalah hari kelahiranmu
usiamu genap 66 tahun jika memang masih ada
Tapi kini, hanya bisa mengenangmu
mengingat wajahmu
mengingat detik-detik terakhir saat kau pergi
hampir sepuluh tahun engkau meninggalkan kami
Meski tak pernah terucap secara lisan
kami tahu bahwa kau sangat menyayangi kami
Dirimu yang berlelah-lelah, siang dan malam
hanya untuk kami
dan sungguh aku bangga padamu
Meski pusaramu jauh di sana
Dia Maha Mengetahui bahwa doa kami
tak akan pernah putus untukmu setiap hari
Robb... maafkan diri ini
yang belum bisa mebahagiakan dan memuliakannya
membalas kebaikan-kebaikannya
Diri ini baru mengerti
betapa sayangnya ia pada kami
setelah ia tiada
setelah ia pergi
Dan sebenarnya kami pun sangat menyayanginya
tapi ternyata Engkau lebih menyayanginya
Untuk setiap lelah yang kau rasakan karena kami,
aku mohonkan kelapangan dan kenikmatan kubur untukmu
Untuk setiap peluh yang kau cucurkan karena letihmu,
aku mohonkan ampunan dan rahmatNya agar selalu tercurah untukmu
dan untuk setiap doa-doa yang kau panjatkan untuk kebaikan kami
aku mohonkan padaNya semoga kelak kau dimuliakan di jannahNya
Dan untukmu ibu,
semoga engkau senantiasa dikaruniai keikhlasan dan kesabaran
karena masih merawat dan menjaga kami
Ampuni pula diri ini yang belum bisa membuatmu cukup bahagia
yang juga terkadang tidak ikhlas dalam memuliakanmu
Bahkan mungkin sering tak sengaja terlontar kata yang menyakiti
Ampuni Yaa Robb ........
Dan hamba sadar sebanyak apapun kebaikan yang kami lakukan,
tak akan pernah sebanding dengan pengorbanan mereka
Engkaulah sebaik-baik pemberi balasan
Semoga kelak dirimu pun dimuliakan di jannahNya
amiin Allahumma amiin
usiamu genap 66 tahun jika memang masih ada
Tapi kini, hanya bisa mengenangmu
mengingat wajahmu
mengingat detik-detik terakhir saat kau pergi
hampir sepuluh tahun engkau meninggalkan kami
Meski tak pernah terucap secara lisan
kami tahu bahwa kau sangat menyayangi kami
Dirimu yang berlelah-lelah, siang dan malam
hanya untuk kami
dan sungguh aku bangga padamu
Meski pusaramu jauh di sana
Dia Maha Mengetahui bahwa doa kami
tak akan pernah putus untukmu setiap hari
Robb... maafkan diri ini
yang belum bisa mebahagiakan dan memuliakannya
membalas kebaikan-kebaikannya
Diri ini baru mengerti
betapa sayangnya ia pada kami
setelah ia tiada
setelah ia pergi
Dan sebenarnya kami pun sangat menyayanginya
tapi ternyata Engkau lebih menyayanginya
Untuk setiap lelah yang kau rasakan karena kami,
aku mohonkan kelapangan dan kenikmatan kubur untukmu
Untuk setiap peluh yang kau cucurkan karena letihmu,
aku mohonkan ampunan dan rahmatNya agar selalu tercurah untukmu
dan untuk setiap doa-doa yang kau panjatkan untuk kebaikan kami
aku mohonkan padaNya semoga kelak kau dimuliakan di jannahNya
Dan untukmu ibu,
semoga engkau senantiasa dikaruniai keikhlasan dan kesabaran
karena masih merawat dan menjaga kami
Ampuni pula diri ini yang belum bisa membuatmu cukup bahagia
yang juga terkadang tidak ikhlas dalam memuliakanmu
Bahkan mungkin sering tak sengaja terlontar kata yang menyakiti
Ampuni Yaa Robb ........
Dan hamba sadar sebanyak apapun kebaikan yang kami lakukan,
tak akan pernah sebanding dengan pengorbanan mereka
Engkaulah sebaik-baik pemberi balasan
Semoga kelak dirimu pun dimuliakan di jannahNya
amiin Allahumma amiin
Tuesday, December 6, 2011
when will be my turn???
Sabtu lalu, hari bahagia seorang teman akhwat telah tiba. Hari yg mungkin ia sudah tunggu2 sejak lama. Sama seprti diriku, yg sangat menginginkan datangnya hari itu. Hari dimana ijab qabul dilafazkan dan disahkan. Hari dimana seorang wanita dan laki2 dihalalkan sebagai sepasang suami istri, lalu mulai membuka lembar kehidupan baru. Mulai menyusun rencana2 baru, agar kehidupan didunia ini lbh berwarna, lbh bermanfaat dan pasti lbh diridhoiNya. Karena bagaimanapun dien ini baru sempurna jika kita telah menikah. Dan juga utk mnyempurnakan setiap ibadah, agar kehidupan akhirat kelak jd mulia. Lalu bagaimana dengan diri ini? Kapan saat itu tiba. Robbi.. masih adakah harapan itu? Masih bisakah meraih impian2 itu? Izinkan diri ini utk mewujudkan segalanya, amiin ...
Sunday, November 20, 2011
....................
Robb
jika semua kekecewaan yg hamba rasakan ini
adalah karena diri ini jg pernah mengecewakan orang lain
menepis harapan orang2 yg mungkin jg sangat berharap pada diri ini
benar2 ingin berniat baik pada diri ini
maka ampunilah hamba
jika mungkin mereka merasa tersakiti karena hamba
Bukan semata2 karena ego hamba
diri ini hanya belum siap
belum siap untuk menerima seseorang
yg belum hamba yakini sepenuhnya
untuk menjadi pendamping
Dengan segenap kerendahan hati
hamba mohon kembali
ampuni diri ini
dan jangan biarkan hati ini
berputus asa atas segala rahmatMu
karena Engkau adalah yg paling mengerti
jika semua kekecewaan yg hamba rasakan ini
adalah karena diri ini jg pernah mengecewakan orang lain
menepis harapan orang2 yg mungkin jg sangat berharap pada diri ini
benar2 ingin berniat baik pada diri ini
maka ampunilah hamba
jika mungkin mereka merasa tersakiti karena hamba
Bukan semata2 karena ego hamba
diri ini hanya belum siap
belum siap untuk menerima seseorang
yg belum hamba yakini sepenuhnya
untuk menjadi pendamping
Dengan segenap kerendahan hati
hamba mohon kembali
ampuni diri ini
dan jangan biarkan hati ini
berputus asa atas segala rahmatMu
karena Engkau adalah yg paling mengerti
Thursday, November 17, 2011
Is this the meaning of being lonely ?
Kala rasa sepi itu datang
meski berada di tengah keramaian
meski di tengah canda tawa
hati ini tak bisa berbohong
bahwa diri ini memang merasakan sepi itu
Tatkala hadirnya keluarga masih belum bisa mengobati
ketika adanya teman2 tak jua mengusir rasa itu
mungkin saat itulah sosok 'teman sejati' memang harus hadir di sisi
untuk menemani diri
mengisi sepinya hati ini
meski berada di tengah keramaian
meski di tengah canda tawa
hati ini tak bisa berbohong
bahwa diri ini memang merasakan sepi itu
Tatkala hadirnya keluarga masih belum bisa mengobati
ketika adanya teman2 tak jua mengusir rasa itu
mungkin saat itulah sosok 'teman sejati' memang harus hadir di sisi
untuk menemani diri
mengisi sepinya hati ini
Saturday, November 12, 2011
Hanya untuk 'Satu Bintang'
Untuk kesekian kalinya
hamba mohon padaMu Robbi
jangan biarkan hati ini 'berharap' pada makhlukMu
Dan hamba jg memohon
jagalah dan peliharalah hati ini
hanya untuk 'satu bintang'
dan satu~satunya bintang
yg kelak akan menyinari
dan mengisi hati ini
suatu saat nanti
Seseorang yg benar~benar telah Kau takdirkan
sebagai qowwam hamba
penghapus rindu, belahan jiwa
Bukan yg hanya dalam angan~angan
dengan segala ketidakpastian
hamba mohon padaMu Robbi
jangan biarkan hati ini 'berharap' pada makhlukMu
Dan hamba jg memohon
jagalah dan peliharalah hati ini
hanya untuk 'satu bintang'
dan satu~satunya bintang
yg kelak akan menyinari
dan mengisi hati ini
suatu saat nanti
Seseorang yg benar~benar telah Kau takdirkan
sebagai qowwam hamba
penghapus rindu, belahan jiwa
Bukan yg hanya dalam angan~angan
dengan segala ketidakpastian
Tuesday, November 1, 2011
Terasa sangat panjang
kadang juga melelahkan
lelah hati
lelah badan
Kadang terlintas prasangka buruk
atas takdirMu padaku
mengapa belum bisa merasakan
kebahagiaan seperti mereka
Tapi segera kutepis
dan kembali berharap
bahwa mimpi itu akan jadi kenyataan
suatu hari nanti
Robb ...
sabarkan diri ini
hingga saatnya tiba, dan Engkau pertemukan
dengan dirinya
yang mungkin saat ini juga sedang menanti kehadiranku
yang selalu kusebut dalam setiap doa yang kupanjatkan
Ampunkan diri ini
jika dalam penantian ini
aku lebih sering mengeluh
daripada mensyukuri nikmatMu
dan melalaikanMu
Dan jangan biarkan pula
diri ini berputus asa
akan segala rahmatMu
Robbanaa wa taqobbal du'a ...
kadang juga melelahkan
lelah hati
lelah badan
Kadang terlintas prasangka buruk
atas takdirMu padaku
mengapa belum bisa merasakan
kebahagiaan seperti mereka
Tapi segera kutepis
dan kembali berharap
bahwa mimpi itu akan jadi kenyataan
suatu hari nanti
Robb ...
sabarkan diri ini
hingga saatnya tiba, dan Engkau pertemukan
dengan dirinya
yang mungkin saat ini juga sedang menanti kehadiranku
yang selalu kusebut dalam setiap doa yang kupanjatkan
Ampunkan diri ini
jika dalam penantian ini
aku lebih sering mengeluh
daripada mensyukuri nikmatMu
dan melalaikanMu
Dan jangan biarkan pula
diri ini berputus asa
akan segala rahmatMu
Robbanaa wa taqobbal du'a ...
Tuesday, April 5, 2011
ABDUSSAYAP
Teman,
kita akan kemana?
terbang?
terbang tinggi ke langit?
dan merasakan kecilnya dunia kita
merasakan lembutnya awan dan membawanya pulang?
Teman,
kita mau kemana?
terbang tinggi ke langit?
merasakan betapa bermartabatnya itu?
merasakan betapa membanggakannya ketinggian itu?
Teman,
sayap-sayap itu memang akan membanggakan kita
tinggi dan menjanjikan
Teman,
kita memang harus terbang
agar dunia tahu bahwa kita ada
dan tinggi
Tapi teman,
jika hanya menambah berat dan memberatkan
letakkan sayap-sayap itu
Letakkan saja sayap-sayap itu
jika membuat cermin kita retak
dan membuat tuli hati ini
Jika perlu campakkan sayap-sayap itu,
agar tak keras nasihat hati,
agar tak harus kasar suara umat
Teman,
tak apa kita tak bersayap
Biarkan kita di sini
Biarkan Ia izinkan kita menjemput kejayaan di sini
di bawah sini...
di kesederhanaan ini ...
Kawan
Mari bersayap dan meninggi
Tanpa menjadi abdussayap
(Semoga Allah menjadi sayang pada kita, amiin)
(Eko Novianto, 2003)
kita akan kemana?
terbang?
terbang tinggi ke langit?
dan merasakan kecilnya dunia kita
merasakan lembutnya awan dan membawanya pulang?
Teman,
kita mau kemana?
terbang tinggi ke langit?
merasakan betapa bermartabatnya itu?
merasakan betapa membanggakannya ketinggian itu?
Teman,
sayap-sayap itu memang akan membanggakan kita
tinggi dan menjanjikan
Teman,
kita memang harus terbang
agar dunia tahu bahwa kita ada
dan tinggi
Tapi teman,
jika hanya menambah berat dan memberatkan
letakkan sayap-sayap itu
Letakkan saja sayap-sayap itu
jika membuat cermin kita retak
dan membuat tuli hati ini
Jika perlu campakkan sayap-sayap itu,
agar tak keras nasihat hati,
agar tak harus kasar suara umat
Teman,
tak apa kita tak bersayap
Biarkan kita di sini
Biarkan Ia izinkan kita menjemput kejayaan di sini
di bawah sini...
di kesederhanaan ini ...
Kawan
Mari bersayap dan meninggi
Tanpa menjadi abdussayap
(Semoga Allah menjadi sayang pada kita, amiin)
(Eko Novianto, 2003)
My beloved wife
Rangga sedang memperhatikan motornya yg masih diperbaiki oleh seorang montir. Saat perjalanan pulang dari rumah sakit untuk memeriksakan kehamilan istrinya tadi, tiba-tiba saja motornya mogok.
Pandangan Rangga lalu tertuju pada sebuah toko bunga di seberang jalan sana. Lalu ia teringat akan sesuatu. “Ya Allah hari ini …”, katanya setengah kaget. Ia lalu berjalan menuju ke arah toko bunga itu.
Beberapa saat kemudian, “Dik tolong berikan bunga ini ke wanita itu ya”, kata Rangga kepada perempuan kecil yg baru saja mengamen di hadapannya dan orang-orang yang ada di bengkel itu, sambil memberika setangkai bunga mawar lalu menunjuk ke arah seorang wanita yang tampak sedang makan dan berbicara dengan seorang ibu di sebuah kedai soto.
“Yang mana Oom? Yang pake jilbab pink apa yang biru?” tanya pengamen kecil itu menegaskan
“Yang biru itu dik, yang lagi berkibar-kibar ditiup angin kayak bendera. Tolong ya, bilang ini dari sesorang yang sangat mencintai dirinya”, katanya dengan senyuman dan memberi selembar uang lima ribuan kepada si pengamen.
Si pengamen kecil itupun lalu pergi sambil mengibas-ngibaskan uang lima ribuan yang baru saja diterimanya.
“Ah istriku… “, desah Rangga. “Maafkan aku yang hingga detik ini masih belum bisa membuatmu merasa bahagia. Bersyukur aku memiliki dirimu yang tidak banyak menuntut, sangat pengertian dan menerima diriku apa adanya. Sudah tiga tahun pernikahan kita, dan sekarang kau sedang mengandung calon buah hati yang telah kita idam-idamkan selama ini. Alhamdulillah, Allah telah mengijabah doa-doa kita. Aku ingat sekali waktuu itu, pernah kau memintaku untuk menikah lagi, karena sudah dua tahun kita menikah tapi belum juga dikaruniai buah hati. Sebab dokter pun menyatakan bahwa kita berdua tidak bermasalah.
“Gimana mas, ada yang cocok?”, tanyamu pada saat yang lain setelah memberiku beberapa lembar biodata teman mengajimu yang belum menikah.
Dirimu sedang bercanda atau serius aku sendiri jadi bingung. Dasar wanita aneh, saat wanita lain meminta cerai ketika suaminya menikah lagi, dirimu malah menyuruhku. Duhai istriku, bagiku kehadiran dirimu sudah cukup membuatku bahagia. Meskipun terkadang sifat manjamu yang kekanak-kanakan itu muncul, atau sikap melankolismu yang terkadang berlebihan, tapi juga cukup menghiburku di kala kepenatan pikiranku melanda. Pengertian dan kesabaranmu hidup bersamaku cukup membuatku mengerti bahwa dirimu adalah wanita sholihah yang dikaruniakan Allah padaku. Tidak perlu lagi ada yang lain.
“Aini … insya Allah aku masih sabar menunggu. Mungkin memang belum waktunya kita dikaruniai anak. Semua ada hikmahnya, tidak perlu kamu melakukan ini semua. Tidak semua yang kita inginkan sama dengan kehendakNya. Sabar ya …”.
Saat itu kuharap kata-kata itu cukup membuatmu mengerti bahwa dirimu memang tak perlu melakukan ini semua.
“Tapi mas, Insya Allah aku ridho jika dirimu ingin beristri lagi …”, kata-kata itu keluar begitu saja, namun disertai air mata yang mengalir perlahan dari sudut matamu. Bagaimanapun kau tetap tidak bisa membohongiku Aini. Dirimu pasti terluka jika aku benar-benar melakukannya. Segera kudekap dirimu, dan membiarkanmu menangis di dadaku.
Dan sekarang, Alhamdulillah, sudah hampir empat bulan janin itu berada dalam kandunganmu. Dan artinya, kurang lebih lima bulan lagi aku akan menjadi seorang ayah, biidznillaah…..
Rangga tertegun dari lamunannya ketika handphonenya bergetar, pertanda bahwa ada pesan singkat yang masuk.
“Syukron katsiron ya Mas.. ternyata dirimu tidak lupa hari ini.. I luv u ”. Sms itu membuat Rangga tersenyum, lalu mengarahkan pandangannya ke arah Aini yang saat itu juga sedang menatapnya dari jauh. Keduanya saling berpandangan, teduh, dan penuh kasih.
Istriku, belahan jiwaku ... cintamu, kasih sayangmu, perhatianmu selalu kurindukan. Ingatkan diri ini jika khilaf atau pun lalai akan kewajibanku, sebagai pendampingmu terlebih lagi sebagai makhlukNya yang dhoif. Agar kelak di hadapanNya nanti, saat segalanya akan dimintai pertanggungjawaban, diriku dapat mempertanggungjawabkan segalanya dengan sebaik-baiknya, atas dirimu dan anak-anak kita, meskipun sangat jauh dari kesempurnaan.
Robb … rahmatilah cinta ini, kami mengharap ridhoMu dalam setiap langkah ikhtiar menapaki jalan hidup, menyempurnakan ketaqwaan diri kepadaMu, Allahumma aamiin………….
Pandangan Rangga lalu tertuju pada sebuah toko bunga di seberang jalan sana. Lalu ia teringat akan sesuatu. “Ya Allah hari ini …”, katanya setengah kaget. Ia lalu berjalan menuju ke arah toko bunga itu.
Beberapa saat kemudian, “Dik tolong berikan bunga ini ke wanita itu ya”, kata Rangga kepada perempuan kecil yg baru saja mengamen di hadapannya dan orang-orang yang ada di bengkel itu, sambil memberika setangkai bunga mawar lalu menunjuk ke arah seorang wanita yang tampak sedang makan dan berbicara dengan seorang ibu di sebuah kedai soto.
“Yang mana Oom? Yang pake jilbab pink apa yang biru?” tanya pengamen kecil itu menegaskan
“Yang biru itu dik, yang lagi berkibar-kibar ditiup angin kayak bendera. Tolong ya, bilang ini dari sesorang yang sangat mencintai dirinya”, katanya dengan senyuman dan memberi selembar uang lima ribuan kepada si pengamen.
Si pengamen kecil itupun lalu pergi sambil mengibas-ngibaskan uang lima ribuan yang baru saja diterimanya.
“Ah istriku… “, desah Rangga. “Maafkan aku yang hingga detik ini masih belum bisa membuatmu merasa bahagia. Bersyukur aku memiliki dirimu yang tidak banyak menuntut, sangat pengertian dan menerima diriku apa adanya. Sudah tiga tahun pernikahan kita, dan sekarang kau sedang mengandung calon buah hati yang telah kita idam-idamkan selama ini. Alhamdulillah, Allah telah mengijabah doa-doa kita. Aku ingat sekali waktuu itu, pernah kau memintaku untuk menikah lagi, karena sudah dua tahun kita menikah tapi belum juga dikaruniai buah hati. Sebab dokter pun menyatakan bahwa kita berdua tidak bermasalah.
“Gimana mas, ada yang cocok?”, tanyamu pada saat yang lain setelah memberiku beberapa lembar biodata teman mengajimu yang belum menikah.
Dirimu sedang bercanda atau serius aku sendiri jadi bingung. Dasar wanita aneh, saat wanita lain meminta cerai ketika suaminya menikah lagi, dirimu malah menyuruhku. Duhai istriku, bagiku kehadiran dirimu sudah cukup membuatku bahagia. Meskipun terkadang sifat manjamu yang kekanak-kanakan itu muncul, atau sikap melankolismu yang terkadang berlebihan, tapi juga cukup menghiburku di kala kepenatan pikiranku melanda. Pengertian dan kesabaranmu hidup bersamaku cukup membuatku mengerti bahwa dirimu adalah wanita sholihah yang dikaruniakan Allah padaku. Tidak perlu lagi ada yang lain.
“Aini … insya Allah aku masih sabar menunggu. Mungkin memang belum waktunya kita dikaruniai anak. Semua ada hikmahnya, tidak perlu kamu melakukan ini semua. Tidak semua yang kita inginkan sama dengan kehendakNya. Sabar ya …”.
Saat itu kuharap kata-kata itu cukup membuatmu mengerti bahwa dirimu memang tak perlu melakukan ini semua.
“Tapi mas, Insya Allah aku ridho jika dirimu ingin beristri lagi …”, kata-kata itu keluar begitu saja, namun disertai air mata yang mengalir perlahan dari sudut matamu. Bagaimanapun kau tetap tidak bisa membohongiku Aini. Dirimu pasti terluka jika aku benar-benar melakukannya. Segera kudekap dirimu, dan membiarkanmu menangis di dadaku.
Dan sekarang, Alhamdulillah, sudah hampir empat bulan janin itu berada dalam kandunganmu. Dan artinya, kurang lebih lima bulan lagi aku akan menjadi seorang ayah, biidznillaah…..
Rangga tertegun dari lamunannya ketika handphonenya bergetar, pertanda bahwa ada pesan singkat yang masuk.
“Syukron katsiron ya Mas.. ternyata dirimu tidak lupa hari ini.. I luv u ”. Sms itu membuat Rangga tersenyum, lalu mengarahkan pandangannya ke arah Aini yang saat itu juga sedang menatapnya dari jauh. Keduanya saling berpandangan, teduh, dan penuh kasih.
Istriku, belahan jiwaku ... cintamu, kasih sayangmu, perhatianmu selalu kurindukan. Ingatkan diri ini jika khilaf atau pun lalai akan kewajibanku, sebagai pendampingmu terlebih lagi sebagai makhlukNya yang dhoif. Agar kelak di hadapanNya nanti, saat segalanya akan dimintai pertanggungjawaban, diriku dapat mempertanggungjawabkan segalanya dengan sebaik-baiknya, atas dirimu dan anak-anak kita, meskipun sangat jauh dari kesempurnaan.
Robb … rahmatilah cinta ini, kami mengharap ridhoMu dalam setiap langkah ikhtiar menapaki jalan hidup, menyempurnakan ketaqwaan diri kepadaMu, Allahumma aamiin………….
Subscribe to:
Posts (Atom)