“Ngga terasa ya, kita sudah melewatinya sepuluh tahun. Aku bahagia sekali
malam ini, terima kasih ya Mas... “, ungkap Aini saat mereka makan malam di
sebuah restoran.
“Ya sayang, Mas juga bersyukur
sekali atas segala nikmat yang Allah karuniakan. Kehadiranmu, anak-anak, sebuah
rumah meskipun sederhana, dan semuanya yang telah Allah titipkan kepada kita,
alhamdulillah ... “, Rangga lalu menggenggam erat tangan istrinya.
“Inget ga Mas, waktu awal-awal nikah kita sering makan di warung sotonya
Mang Eem. Karena tempatnya yang selalu rame kita sering ga kebagian tempat,
malah sering juga kehabisan”
“Iya ya, habis ga ada pilihan lain, yang murah dan enak ya disitu itu”,
Rangga menimpali. Dan mereka pun tertawa mengingat masa-masa itu. Di sela
pembicaraan aini mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. “Ini buat Mas”
“Wah apa nih..”, Rangga yang terlihat sedikit kaget tapi juga sangat
senang karena diberi hadiah. “Mas bahkan ga sempat beli apa-apa buatmu”,
ungkapnya dengan perasaan tidak enak.
“Ngga apa-apa Mas, emang udah disiapin. Lagian aku udah sering dikasih
hadiah, sekarang gantian ..”
Hadiah meskipun
ia tidak mahal, namun bisa menjadi sebuah bentuk ungkapan kasih sayang yang cukup
berarti bagi yang menerimanya. Seperti kata Rasulullah ‘tahaaduu tahabbuu’,
saling memberi hadiahlah, maka kalian saling akan saling mencintai. Dan juga karena
mencintai adalah memberi, memberi dengan
segenap ketulusan hati kepada yang dicintai, apapun itu.
“Masya Allah Aini, ini kan jam yang Mas pengen beli waktu itu ..”, yang
diberi hadiah kembali sumringah melihat pemberian istrinya itu. Ya, beberapa
waktu yang lalu Rangga sempat ingin membeli sebuah jam tangan yang sangat ia
idamkan. Tapi karena kepentingan lain, akhirnya ia memutuskan tidak jadi
membelinya.
“Mudah-mudahan Mas suka ..”
“Duh ini mah bukan suka lagi, tapi suka bingiiiittss ..”. Aini tersenyum
geli melihat tingkah suaminya itu. “Tapi kamu uang dari mana sayang, uang
belanja aman-aman aja kan?”, terlihat wajahnya menyimpan sedikit kegelisahan.
“Insya Allah masih aman terkendali semuanya ..”, jawab Aini tenang
“Terus, buat yang lain juga sudah semua kan? Orang tua Mas, orang tuamu, uang
sekolah si Fikri, terus ..”, ujar Rangga
sambil mengingat-ngingat. Masya Allah suamiku, itulah yang semakin membuatku semakin
menyayangimu setiap saat. Tidak ada satupun orang-orang yang kau sayangi, yang ingin
kau luputkan dari perhatianmu. Orang tuamu, orang tuaku, Fikri yang sejak umur
tujuh tahun menemani dan menjadi tanggung jawab kita, dan semuanya. Bagaimana
kau memperlakukan orangtuaku seperti orangtuamu sendiri. Bukan jumlah atau besarnya
pemberian pada mereka yang jadi tolak ukur, tapi bentuk kepedulian dan
perhatianmu itulah yang amat sangat aku hargai.
“Alhamdulillah Mas semua yang jadi amanah kita sudah ditunaikan, jangan
panik gitu deh ..”, Aini mencoba menggoda suaminya.
“Alhamdulillah ... jazakallahu khoir ya ummu Ayyash ..”, Rangga kembali
memegangi erat tangan istrinya, sambil tersenyum yang paliing manis.
“Tapi Mas, berhubung BBM naik, harga barang-barang malah udah naik duluan,
beberapa tagihan bulanan juga ada kenaikan. Aku juga sudah berusaha sehemat
mungkin tapi susah juga. Jadi ... bulan depan aku sangat berharap uang belanja
juga dinaikkan ya Mas hehe”, ujar Aini sedikit bercanda namun wajahnya penuh
harap
“Ohh .. “, Rangga menghela nafas, wajahnya yang tadi sangat ceria berubah
menjadi tak berekspresi. Sedikit kaget mungkin, tapi memang itulah realita yang
harus dihadapinya sebagai kepala keluarga :D
“Iya deh, insya Allah mudah-mudah bulan depan bisa naik uang belanjanya
hiks”, lanjut Rangga sambil menyeruput habis minumannya.
“Alhamdulillah, makasih ya Maass... “, Aini memberi senyuman termanis untuk suaminya.
“Oh ya, tadi Mas ketemu sama Nadia”, Rangga kembali membuka percakapan.
“Nadia??”, kening Aini sedikit berkerut mendengar nama itu, karena
sedikit banyak ia telah mendengar cerita tentang wanita itu dari Rangga. Yang
ditanyapun akhirnya menceritakan semua yang telah ia ketahui. Dan kini wajah
Aini yang berubah menjadi datar. Antara prihatin dan juga simpati dengankisah hidupnya, tapi juga bercampur dengan rasa cemburu yang mungkin tak beralasan.
.
*kok jadi mirip novel bang jonru ya, dikit sih miripnya
tapi yang pasti bagusan novelnya beliaulah :D
ternyata bukan bukan cuma wajah manusia yang kadang bisa mirip didunia ini
tapi pemikiran pun bisa sama ternyata...