Satu bulan telah berlalu ...
Ryan adalah
sepupu Rangga, dan sore ini ia akan melamar seorang wanita pilihannya. Beberapa
orang sanak keluarganya yang lain juga ikut. Tidak ada acara yang formal
sebenarnya, tapi Bibi Maryam, ibunya Ryan meminta Rangga agar juga ikut
menemani mereka. Karena Ryan memang cukup dekat dengan Rangga, terlebih setelah
ayahnya wafat beberapa tahun yang lalu.
Saat
perjalanan ke tempat yang dituju, semua keluarga saling bercengkerama. Apalagi
karena mereka memang jarang bertemu jika bukan pada saat momen-momen tertentu,
seperti sekarang ini misalnya. Kebetulan Aini tidak ikut dengan Rangga, karena
Aisha putri kecil mereka sedang kurang sehat jadi sedikit rewel.
“Alhamdulillah
ya, akhirnya kamu mau menikah juga”, tukas Rangga. Yang ditanya akhirnya bisa terseyum
juga, karena sejak berangkat tadi wajahnya terlihat cukup tegang
“Ya iyalah Mas, saya kan masih normal :p Bukannya Mas Rangga juga yang suka ngomporin
saya biar cepet-cepet nikah”, balas Ryan sambil tertawa. Rangga pun ikut
tertawa.
“Insya Allah saya sangat yakin dengan pilihan
saya ini, meskipun dia punya masa lalu yang menyedihkan buatnya”, ungkap Ryan
kembali, namun ekspresinya kali ini tidak sesumringah tadi.
“Maksudmu?”,
wajah Ryan terlihat penuh tanya.
“Hmmm.. ya
setiap orang pasti punya cerita dalam hidupnya. Yang penting saya sudah tidak mempersoalkan
hal itu, begitu juga ibu yang mengerti dan sudah merestui saya, jadi tidak ada
lagi yang perlu diragukan. Insya Allah dia adalah calon istri yang baik.
Pokoknya ga jauh beda deh dengan Mba Aini ...”, Ryan kembali tersenyum.
Rangga ingat,
dulu saat Ryan kuliah ia pernah dekat dengan teman kampusnya yang juga seorang
model majalah remaja, Sarah. Tapi akhirnya mereka tidak dekat lagi, karena
sikap Sarah yang tidak ingin dibatasi. Ryan menginginkan agar Sarah berhenti
untuk menjadi model, tapi ia tidak mau. Ryan juga tidak ingin Sarah terlalu
mengekspos dirinya dan menjadi konsumsi publik. Namun Sarah justru semakin
mengukuhkan keinginannya untuk menjadi model profesional. Ryan juga sempat
frustasi beberapa saat karena berpisah
dengan Sarah. Karena mereka sudah berhubungan sejak masih SMA. Rangga yang memang
dekat dengan Ryan sepupunya itu akhirnya menasehatinya agar tidak lagi
berpacaran, hanya akan mendekatkan pada maksiat. Jika memang sudah siap kelak,
maka menikahlah. Carilah wanita yang baik terutama agamanya dan juga kau sukai
untuk dinikahi, nasehat Rangga saat itu padanya. Ryan pun menurutinya, dan
sejak saat itu Ryan tidak pernah dekat lagi dengan wanita manapun. Syukurlah
jika sekarang Ryan telah menemukan
pasangan yang cocok yang ia yakini untuk menjadi pendamping hidupnya, kata
Rangga dalam hati.
“Oh ya ..
alhamdulillah kalau kamu sudah sangat yakin”, kata Rangga sambil menepuk bahu
sepupunya itu. Dan entah mengapa tiba-tiba saja ia berpikir tentang Nadia. Dalam
hatinya ia pun berharap Nadia juga bisa mendapatkan pasangan yang cocok untuk
dirinya suatu saat nanti.
Perjalanan yang
ditempuh sudah satu jam lebih. Ryan yang awalnya tadi nampak sedikit tidak
tenang, kini terlihat lebih santai. Ia sudah sangat siap sepertinya.
“Sebentar lagi
nih kita sampai ..”, ujar Ryan kepada semua orang yang ada di dalam mobilnya.
“Lho, ini kan
arah ke kampusku dulu”, tukas Rangga yang terus menatap ke luar memperhatikan
sekelilingnya.
“Iya Mas,
memang dekat-dekat sini rumahnya”, kata Ryan sambil terus fokus menyetir.
Sedang Rangga masih terus memperhatikan keadaan sekelilingnya. Sudah lama ia
tidak melewati jalan ini, keadaan sudah banyak berubah. Rangga memang sangat mengenal
jalan ini, sebuah tikungan, ada masjid dan ... Ya akhirnya Rangga ingat, bahwa
ini adalah jalan menuju ke rumah Nadia. Dulu ia pernah beberapa kali ke sana
karena urusan kegiatan kampus, bersama dengan beberapa temannya yang lain.
“Kenapa Mas?”,
tanya Ryan
“Ngga apa-apa,
dulu Mas punya teman yang tinggal deket sini, beberapa rumah setelah masjid
itu.
“Oh ya, calon
saya juga deket –deket situ rumahnya”, jawab Ryan santai.
“Benarkah??”,
rasa penasaran Ranggga semakin menjadi. “Mas boleh tau namanya siapa?”, Rangga
mencoba memastikan.
“Namanya Nadia
Mas”, jawab Ryan singkat. Tentunya ia cukup kaget mendengar nama itu.
“Nama lengkapnya?”,
tanya Rangga kembali memastikan.
“Nadia Rizky
Aulia”
“Masya Allah “, gumam Rangga perlahan. Ternyata wanita yang akan dijadikan istri oleh
adik sepupunya ini benar-benar Nadia. Ia jadi kembali teringat kata-kata Nadia
waktu itu. Ternyata laki-laki yang ia maksudkan adalah Ryan sepupunya. Dan ia
juga cukup kagum dengan ketulusan hati sepupunya ini, yang tidak
mempermasalahkan sama sekali tentang status Nadia. Dengan keyakinannnya ia
mengetahui bahwa Nadia adalah wanita yang baik. Bagi seorang muslim sejati,
menikah tidak hanya sekedar nafsu, melainkan suatu bentuk ibadah mulia yang
diperintahkan oleh Allah dan juga RasulNya. Tidak hanya sekedar jalan untuk
menghalalkan hubungan dua insan, tapi
juga bagaimana dua insan menyatu dan saling menguatkan dalam ketaatan kepadaNya.
Bukan hanya jalan untuk mendapatkan keturunan, tapi bagaimana agar bisa menjaga
dan mendidik amanah yang telah Allah titipkan kelak menjadi generasi yang
shalih. Rangga menghela nafas lega, terlihat segaris senyum di wajahnya.
“Dia memang
temanku Ryan”, ungkap Rangga singkat sambil menatap wajah sepupunya itu. Sepupunya
yang atas izinNya kelak akan menjadi suami Nadia. Namun ia belum menceritakan
secara detail bagaimana kisah dirinya dan Nadia.
Saat di rumah
Nadiapun, Rangga agak sedikit kikuk. Ibunya Nadia yang masih ingat dengan
Rangga, juga merasa tidak enak dengan Rangga, karena dulu ialah yang membujuk
Nadia agar tidak menerimanya, tapi menerima laki-laki lain anak dari teman ayahnya
Nadia. Terlebih lagi Nadia, yang melihat kedatangan Ryan bersama dengan Rangga,
dari raut wajahnya terlihat bahwa ia sangat terkejut. Ryan lalu menjelaskan,
begitu juga dengan Rangga. Perlahan Rangga berusaha mencairkan suasana, dan
akhirnya beberapa saat kemudian suasana menjadi lebih santai. Semuanya berjalan
dengan lancar, sesuai kesepakatan mereka akan menikah akhir bulan depan. Dan
akhirnya rona kebahagiaan itu terpancar di wajah Nadia.
Minggu pagi keesokan harinya ...
“Alhamdulillah
ya Mas “, ujar Aini mengungkapkan rasa syukurnya, lalu duduk di samping Rangga
yang baru saja selesai tilawah sepulangnya dari sholat subuh di masjid.
“Iya,
alhamdulillah ..”, sahut Rangga
“Eh Mas, kapan-kapan
kita tempat Mang Eem yuks, udah lama ga makan sotonya Mang Eem, ayam bakarnya
juga. Kangen juga sama Mang Eem, apa kabarnya ya dia sekarang”, ajak Aini pada
suaminya.
“Tuhh kaan ..
kamu mah gitu, giliran aku yang ga kenapa-kenapa malah dikira kenapa-kenapa.. “,
Rangga berpura-pura sedih pasang wajah
manyun. “Ternyata kamu sendiri menyimpan kerinduan yang begitu mendalam sama
Mang Eem hiks”
Aini yang
mendengarnya jadi sedikit kesal, “Masya Allah Mas, kamu ini yaa ...”, sebuah
cubitan khas Aini kembali mendarat, kali ini di pahanya Rangga, dan seperti
biasa Rangga akan berpura-pura meringis kesakitan sambil menggosok pahanya.
Hingga akhirnya Aini tertawa. Begitu juga Rangga.
Tiba-tiba Ayyash datang
menghampiri lalu duduk dekat mereka. “Ummi sama abi kenapa pada ketawa”, tanya
Ayyash polos.
“Ehh
ada kakak Ayyash”, sapa Rangga pada si sulung. “Ga ada apa-apa, ada yang lucu tadi.
Adekmu mana Yash? ”
“Aisha
masih bobo bi .. Oh ya, kemarin sore-sore Om Hanif ngasih ini, tapi Ayyash lupa
ngasih tau Ummi. Om Hanif mau nikah ..”, ujar Ayyash sambil menunjukkan sebuah
undangan.
“Alhamdulillaah
...” , Rangga dan Aini menjawab berbarengan, keduanya saling berpadangan.
“Nikahnya
dengan Nadia juga”, ujar Rangga sambil melihat undangan.
“Lho,
maksudnya?”, kata Aini heran
“Iya, nama
calonnya Nadia juga, dan persis satu minggu sebelum nikahnya Ryan sama Nadia”,
Rangga menjelaskan.
“Subhanallah
.. rencana Allah kadang tidak seperti yang kita kira, tapi pasti itulah yang
terbaik jika kita benar-benar bertawakkal kepadaNya. Tidak akan salah, tidak
akan tertukar, semua telah ditakdirkan olehNya”, Aini kembali mengungkapkan
rasa syukurnya.
Pagi yang
cerah itu jadi terasa lebih indah dari biasanya. Dan obrolan mereka juga kembali
berlanjut, tentang apapun, tentang semua hal yang menjadi bagian dari setiap
bab dalam kisah kehidupan mereka. Semakin larut dan semakin hangat, sehangat
sinar mentari pagi yang cahayanya mulai menyapa mereka hari itu.
T H E EN D