Search This Blog

Popular Posts

Wednesday, September 30, 2015

....

for all of these desires

and all of dreams

about love and hope

can't say more explanation


three words enough:

'pasangan dunia akhirat'

aamiin yaa Allah ...

Saturday, September 12, 2015

My beloved family V (When 2 become 1 ) ^^





Satu bulan telah berlalu ...

                Ryan adalah sepupu Rangga, dan sore ini ia akan melamar seorang wanita pilihannya. Beberapa orang sanak keluarganya yang lain juga ikut. Tidak ada acara yang formal sebenarnya, tapi Bibi Maryam, ibunya Ryan meminta Rangga agar juga ikut menemani mereka. Karena Ryan memang cukup dekat dengan Rangga, terlebih setelah ayahnya wafat beberapa tahun yang lalu.

Saat perjalanan ke tempat yang dituju, semua keluarga saling bercengkerama. Apalagi karena mereka memang jarang bertemu jika bukan pada saat momen-momen tertentu, seperti sekarang ini misalnya. Kebetulan Aini tidak ikut dengan Rangga, karena Aisha putri kecil mereka sedang kurang sehat jadi sedikit rewel.
“Alhamdulillah ya, akhirnya kamu mau menikah juga”, tukas Rangga. Yang ditanya akhirnya bisa terseyum juga, karena sejak berangkat tadi wajahnya terlihat cukup tegang

 “Ya iyalah Mas, saya kan masih normal :p  Bukannya Mas Rangga juga yang suka ngomporin saya biar cepet-cepet nikah”, balas Ryan sambil tertawa. Rangga pun ikut tertawa.
 “Insya Allah saya sangat yakin dengan pilihan saya ini, meskipun dia punya masa lalu yang menyedihkan buatnya”, ungkap Ryan kembali, namun ekspresinya kali ini tidak sesumringah tadi.

“Maksudmu?”, wajah Ryan terlihat penuh tanya.

“Hmmm.. ya setiap orang pasti punya cerita dalam hidupnya. Yang penting saya sudah tidak mempersoalkan hal itu, begitu juga ibu yang mengerti dan sudah merestui saya, jadi tidak ada lagi yang perlu diragukan. Insya Allah dia adalah calon istri yang baik. Pokoknya ga jauh beda deh dengan Mba Aini ...”, Ryan kembali tersenyum.

Rangga ingat, dulu saat Ryan kuliah ia pernah dekat dengan teman kampusnya yang juga seorang model majalah remaja, Sarah. Tapi akhirnya mereka tidak dekat lagi, karena sikap Sarah yang tidak ingin dibatasi. Ryan menginginkan agar Sarah berhenti untuk menjadi model, tapi ia tidak mau. Ryan juga tidak ingin Sarah terlalu mengekspos dirinya dan menjadi konsumsi publik. Namun Sarah justru semakin mengukuhkan keinginannya untuk menjadi model profesional. Ryan juga sempat frustasi beberapa saat  karena berpisah dengan Sarah. Karena mereka sudah berhubungan sejak masih SMA. Rangga yang memang dekat dengan Ryan sepupunya itu akhirnya menasehatinya agar tidak lagi berpacaran, hanya akan mendekatkan pada maksiat. Jika memang sudah siap kelak, maka menikahlah. Carilah wanita yang baik terutama agamanya dan juga kau sukai untuk dinikahi, nasehat Rangga saat itu padanya. Ryan pun menurutinya, dan sejak saat itu Ryan tidak pernah dekat lagi dengan wanita manapun. Syukurlah jika sekarang Ryan telah menemukan pasangan yang cocok yang ia yakini untuk menjadi pendamping hidupnya, kata Rangga dalam hati.

“Oh ya .. alhamdulillah kalau kamu sudah sangat yakin”, kata Rangga sambil menepuk bahu sepupunya itu. Dan entah mengapa tiba-tiba saja ia berpikir tentang Nadia. Dalam hatinya ia pun berharap Nadia juga bisa mendapatkan pasangan yang cocok untuk dirinya suatu saat nanti.

Perjalanan yang ditempuh sudah satu jam lebih. Ryan yang awalnya tadi nampak sedikit tidak tenang, kini terlihat lebih santai. Ia sudah sangat siap sepertinya.

“Sebentar lagi nih kita sampai ..”, ujar Ryan kepada semua orang yang ada di dalam mobilnya. 

“Lho, ini kan arah ke kampusku dulu”, tukas Rangga yang terus menatap ke luar memperhatikan sekelilingnya.

“Iya Mas, memang dekat-dekat sini rumahnya”, kata Ryan sambil terus fokus menyetir. Sedang Rangga masih terus memperhatikan keadaan sekelilingnya. Sudah lama ia tidak melewati jalan ini, keadaan sudah banyak berubah. Rangga memang sangat mengenal jalan ini, sebuah tikungan, ada masjid dan ... Ya akhirnya Rangga ingat, bahwa ini adalah jalan menuju ke rumah Nadia. Dulu ia pernah beberapa kali ke sana karena urusan kegiatan kampus, bersama dengan beberapa temannya yang lain.

“Kenapa Mas?”, tanya Ryan

“Ngga apa-apa, dulu Mas punya teman yang tinggal deket sini, beberapa rumah setelah masjid itu.

“Oh ya, calon saya juga deket –deket situ rumahnya”, jawab Ryan santai.

“Benarkah??”, rasa penasaran Ranggga semakin menjadi. “Mas boleh tau namanya siapa?”, Rangga mencoba memastikan.

“Namanya Nadia Mas”, jawab Ryan singkat. Tentunya ia cukup kaget mendengar nama itu.

“Nama lengkapnya?”, tanya Rangga kembali memastikan.

“Nadia Rizky Aulia”

“Masya Allah “, gumam Rangga perlahan. Ternyata wanita yang akan dijadikan istri oleh adik sepupunya ini benar-benar Nadia. Ia jadi kembali teringat kata-kata Nadia waktu itu. Ternyata laki-laki yang ia maksudkan adalah Ryan sepupunya. Dan ia juga cukup kagum dengan ketulusan hati sepupunya ini, yang tidak mempermasalahkan sama sekali tentang status Nadia. Dengan keyakinannnya ia mengetahui bahwa Nadia adalah wanita yang baik. Bagi seorang muslim sejati, menikah tidak hanya sekedar nafsu, melainkan suatu bentuk ibadah mulia yang diperintahkan oleh Allah dan juga RasulNya. Tidak hanya sekedar jalan untuk menghalalkan  hubungan dua insan, tapi juga bagaimana dua insan menyatu dan saling menguatkan dalam ketaatan kepadaNya. Bukan hanya jalan untuk mendapatkan keturunan, tapi bagaimana agar bisa menjaga dan mendidik amanah yang telah Allah titipkan kelak menjadi generasi yang shalih. Rangga menghela nafas lega, terlihat segaris senyum di wajahnya.

“Dia memang temanku Ryan”, ungkap Rangga singkat sambil menatap wajah sepupunya itu. Sepupunya yang atas izinNya kelak akan menjadi suami Nadia. Namun ia belum menceritakan secara detail bagaimana kisah dirinya dan Nadia.

Saat di rumah Nadiapun, Rangga agak sedikit kikuk. Ibunya Nadia yang masih ingat dengan Rangga, juga merasa tidak enak dengan Rangga, karena dulu ialah yang membujuk Nadia agar tidak menerimanya, tapi menerima laki-laki lain anak dari teman ayahnya Nadia. Terlebih lagi Nadia, yang melihat kedatangan Ryan bersama dengan Rangga, dari raut wajahnya terlihat bahwa ia sangat terkejut. Ryan lalu menjelaskan, begitu juga dengan Rangga. Perlahan Rangga berusaha mencairkan suasana, dan akhirnya beberapa saat kemudian suasana menjadi lebih santai. Semuanya berjalan dengan lancar, sesuai kesepakatan mereka akan menikah akhir bulan depan. Dan akhirnya rona kebahagiaan itu terpancar di wajah Nadia.

Minggu pagi keesokan harinya ...

“Alhamdulillah ya Mas “, ujar Aini mengungkapkan rasa syukurnya, lalu duduk di samping Rangga yang baru saja selesai tilawah sepulangnya dari sholat subuh di masjid.

“Iya, alhamdulillah ..”, sahut Rangga

“Eh Mas, kapan-kapan kita tempat Mang Eem yuks, udah lama ga makan sotonya Mang Eem, ayam bakarnya juga. Kangen juga sama Mang Eem, apa kabarnya ya dia sekarang”, ajak Aini pada suaminya.

“Tuhh kaan .. kamu mah gitu, giliran aku yang ga kenapa-kenapa malah dikira kenapa-kenapa.. “, Rangga berpura-pura sedih  pasang wajah manyun. “Ternyata kamu sendiri menyimpan kerinduan yang begitu mendalam sama Mang Eem hiks”

Aini yang mendengarnya jadi sedikit kesal, “Masya Allah Mas, kamu ini yaa ...”, sebuah cubitan khas Aini kembali mendarat, kali ini di pahanya Rangga, dan seperti biasa Rangga akan berpura-pura meringis kesakitan sambil menggosok pahanya. Hingga akhirnya Aini tertawa. Begitu juga Rangga.
Tiba-tiba Ayyash datang menghampiri lalu duduk dekat mereka. “Ummi sama abi kenapa pada ketawa”, tanya Ayyash polos.

                “Ehh ada kakak Ayyash”, sapa Rangga pada si sulung. “Ga ada apa-apa, ada yang lucu tadi. Adekmu mana Yash? ”

                “Aisha masih bobo bi .. Oh ya, kemarin sore-sore Om Hanif ngasih ini, tapi Ayyash lupa ngasih tau Ummi. Om Hanif mau nikah ..”, ujar Ayyash sambil menunjukkan sebuah undangan.

            “Alhamdulillaah ...” , Rangga dan Aini menjawab berbarengan, keduanya saling berpadangan.

“Nikahnya dengan Nadia juga”, ujar Rangga sambil melihat undangan.

“Lho, maksudnya?”, kata Aini heran

“Iya, nama calonnya Nadia juga, dan persis satu minggu sebelum nikahnya Ryan sama Nadia”, Rangga menjelaskan.

“Subhanallah .. rencana Allah kadang tidak seperti yang kita kira, tapi pasti itulah yang terbaik jika kita benar-benar bertawakkal kepadaNya. Tidak akan salah, tidak akan tertukar, semua telah ditakdirkan olehNya”, Aini kembali mengungkapkan rasa syukurnya.

Pagi yang cerah itu jadi terasa lebih indah dari biasanya. Dan obrolan mereka juga kembali berlanjut, tentang apapun, tentang semua hal yang menjadi bagian dari setiap bab dalam kisah kehidupan mereka. Semakin larut dan semakin hangat, sehangat sinar mentari pagi yang cahayanya mulai menyapa mereka hari itu. 

  
T H E   EN D


dream land !_!


  


One of my dream place, dream land ...
Cuma bisa liat di tv, liat di gambar, denger cerita ':( 
Ya Robb, semoga kelak Engkau izinkan hamba ke tanah suciMu, aamiin Allahumma aamiin ..





Tuesday, September 8, 2015

Rindu ~


Entah sudah berapa lama kau tak datang
membuat rindu ini semakin menjadi
pernah kau hadir saat itu
tapi cuma sesaat, lalu kembali menghilang

dan ternyata bukan aku saja yang rindu
banyak juga yang mengharapkanmu
semua terasa gersang tanpa kedatanganmu

hujan ... datanglah
aku sangat merindukanmu
karena taukah kau
hadirmu adalah bahagiaku yang sederhana