Pernikahan merupakan salah satu perintah Allah dan juga sunnah Rasulullah SAW yang sangat dianjurkan pelaksanaannya bagi setiap muslim. Pernikahan adalah suatu peristiwa yang fitrah, dan sarana paling agung dalam memelihara keturunan dan memperkuat hubungan antar sesama manusia dengan jalan yang Ia ridhoi, dalam suatu perjanjian yang kokoh (mitsaqon ghaliza, QS. Annisa :21) dan suci, yang menjadi sebab terjaminnya ketenangan, cinta, dan kasih sayang. Disebut perjanjian yang kokoh karena hubungan pernikahan ini dapat terus berlanjut hingga kelak di negeriNya yang kekal bagi siapa saja yang dikehendakiNya, meskipun di dunia mereka telah dipisahkan oleh kematian.
Bahkan Rasulullah
pernah melarang sahabat yang berniat untuk meninggalkan nikah agar bisa
mempergunakan seluruh waktunya untuk beribadah kepada Allah, karena hidup
membujang tidak disyariatkan dalam agama.
Dan tujuan utama pernikahan bagi seorang muslim adalah untuk mengharapkan keridhoan Allah SWT, serta untuk mendapatkan rasa kasih dan sayang dan juga ketenangan.
“Dan diantara tanda-tanda
kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri,
supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya
diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu
benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” [Qs. Ar. Ruum (30) :
21].
Pada saat
semuanya berjalan sesuai dengan yang kita inginkan, tentunya semua akan
berjalan baik-baik saja. Namun ada saatnya Allah azza wa jalla akan memberikan
ujian dalam kehidupan rumah tangga seseorang, sehingga mereka dituntut akan
kesabaran dan juga keikhlasannya dalam menghadapi ujian yang diberikan.
Mungkin
kita pernah melihat di sekeliling kita orang yang-orang yang berbahagia dengan
pernikahannya, walau banyak ujian yang mereka hadapi namun dapat mereka hadapi
dengan sabar dan lapang dada.
Saya belajar banyak hal dari pernikahan orang tua saya. Alhmarhum bapak saya, sampai detik ini, masih menjadi satu-satunya laki-laki yang saya kagumi dan saya cintai, adalah seorang ayah yang baik dan hebat menurut saya. Atas tanggung jawabnya, perhatiannya, dan kasih sayangnya pada keluarga. Dan baru sangat saya sadari ketika dirinya telah tiada. Walau tidak ditunjukkan dengan kata-kata, namun dengan sikap dan perbuatannya. Ia justru terlihat tegas, akan tetapi saya bisa merasakan rasa kasih sayang darinya. Ia yang sudah lelah bekerja setiap harinya, namun tidak malu untuk membantu menggantikan istrinya untuk berbelanja ke pasar, bahkan juga tidak segan untuk membantu mengerjakan pekerjaan rumah yang ia bisa, saat istrinya tidak sempat mengerjakan atau sedang sakit, perhatian dengan anak-anaknya walau hanya sesuatu yang sederhana seperti membantu membuat PR, memotongi kuku, dll. Mengajarkan kebaikan-kebaikan, meskipun hanya hal-hal kecil namun hal tersebut menjadi hal yang terus saya ingat.
Dan setelah ia tiada, ibu saya tetap
sabar juga berusaha dengan kemampuannya agar anak-anaknya dapat hidup cukup
walau dengan segala keterbatasan dan kesedrerhanaan. Tetap mencintai suaminya,
dengan menceritakan kebaikan-kebaikannya kepada anak-anaknya, dan juga selalu
menyuruh mereka agar selalu mendoakannya.
Semoga Allah selalu merahmati, dan
mempertemukan kalian kembali kelak di jannahNya, aamiin yaa Robb !_!
Lalu kisah dua
orang akhwat yang pernah saya kenal. Yang waktu itu keduanya belum dikaruniai
buah hati, dengan pernikahan yang sudah lebih dari lima tahun. Tapi yang saya
lihat suami-suami mereka justru sangat menyayangi mereka. Jadi jangankan ingin
berpaling dengan wanita lain karena alasan belum memiliki keturunan, justru
mereka menjadi support dan semangat bagi istri mereka sambil terus berikhtiar
untuk dapat memiliki keturunan. Bahkan menurut saya, mereka terlihat jadi lebih
romantis, karena setiap hari dua-duan terus :) Dan alhamdulillah, keduanya kini telah
diakuruniai buah hati.
Satu lagi contoh
real yang pernah saya lihat di suatu tayangan tv (variety show). Seorang suami
sebut saja bapak R, yang sehari-harinya berprofesi sebagai tukang ojeg. Itupun
bukan dengan sepeda motor milik sendiri, ia menyewanya dari orang lain.
Sehingga dengan penghasilan yang diterimanya setiap hari, harus ia sisihkan
untuk membayar sewa sebesar Rp. 12.000,- .
Yang membuat
hati saya amat sangat terenyuh dari kehidupan bapak R ini adalah, ia memiliki
seorang istri yang terkena cancer (tidak perlu saya sebutkan jenisnya),
sehinggga membuat ia terbaring lemah tak berdaya, dan harus diberi perhatian
dan perawatan ekstra. Penyakitnya ini berawal sejak kelahiran anaknya yang ke
tiga *syafahallah ... semoga Allah juga memberi kesabaran padanya dan juga
keluarganya. Ia pun dengan segenap upayanya, walau dengan penghasilan minim,
berusaha mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk pengobatan istrinya, termasuk
dengan meminjam sana sini. Terlihat tak ada keluhan yang keluar dari mulutnya sedikitpun,
dan ia sangat berharap agar istrinya segera cepat sembuh dari penyakitnya,
karena ia sangat menyayanginya. Subhanallaah T_T
Memiliki
pasangan hidup yang taat padaNya, dan juga sangat menyayangi kita dalam keadaan
dan kondisi apapun tentulah menjadi dambaan bagi banyak orang. Namun
sebaliknya, idealnya kita pun harus bersikap demikian.
Ya, itulah makna sebuah pernikahan yang terinspirasi dari berbagai sumber. Bagaimana masing-masing pasangan, dituntut
untuk saling menyayangi, menghargai, mengormati, memberi perhatian, dan semua
bentuk kasih dan sayang lainnya agar tercipta tujuan mulia pernikahan yaitu
sakinah mawaddah warahmah. Saling memahami dan menerima kekurangan, karena
kalau dengan kelebihan siapapun pasti akan senang-senang saja menerimanya. Dan
sebisa mungkin berusaha menjadi pelengkap kekurangan pasangannya,
memperbaikinya atau bahkan menyempurnakannya.
Selain itu, jika ridho Allah menjadi tujuan utama saat pernikahan, maka saling menguatkan dalam ketaatan kepadaNya akan selalu dilakukan dan terus terjaga. Sehingga tidak lalai, bahwa pernikahan itu adalah karuniaNya yang harus selalu disyukuri, dan juga menjadi jalan untuk semakin dekat kepadaNya.
Selain itu, jika ridho Allah menjadi tujuan utama saat pernikahan, maka saling menguatkan dalam ketaatan kepadaNya akan selalu dilakukan dan terus terjaga. Sehingga tidak lalai, bahwa pernikahan itu adalah karuniaNya yang harus selalu disyukuri, dan juga menjadi jalan untuk semakin dekat kepadaNya.
Allahu a’lam ...
Untuk yang baru saja menikah:
seorang adiknya teman saya
dan seorang temannya adik saya
dan juga sepupu saya
semoga pernikahan kalian selalu dalam limpahan
berkah dan karuniaNya
Barakallahu lakuma wa baraka 'alaykuma wajama’a
bayna kuma fii khair
*** Note ini adalah sebagai reminder bagi diri, kelak jika
saya berada dalam "chapter' ini atas seizinNya, maka saya
harus menjadi istri yang baik
begitu pula sama halnya dengan yang saya harapkan dari pasangan saya :)
