Search This Blog

Popular Posts

Sunday, December 20, 2015

...

Kalau cerita fiktif, setiap alur yang terjadi dan ending ceritanya dibuat atas pemikiran penulisnya
karena terinspirasi oleh banyak hal yang terjadi di sekitarnya, 
atau hasil imajinasinya sendiri

Tapi kalau kisah hidup seseorang, semua terjadi atas kehendakNya
semua berjalan berdasarkan skenarioNya
yang telah tertulis di Lauh MahfudzNya

dari yang tidak ada menjadi ada
atau yang sebelumnya ada lalu tiada
yang datang lalu pergi
atau yang hilang dan mungkin suatu saat akan kembali

Harus selalu sabar atas semua yang ditetapkanNya
dan selalu bersyukur untuk setiap tetes nikmat yang Ia karuniakan

Semua akan ada saatnya
dan semua pasti ada hikmahnya

Allah always knows what best for us ...
:'(  :'(

Thursday, November 5, 2015

*******






Robbi ..
begitu banyak bintang di langit yang Kau ciptakan
begitu indah
menggugah hati, menyilaukan pandangan

namun yang kutau
hanya satu yang Kau ciptakan untukku
yang kelak akan menemani dan menerangi
setiap langkah dalam hidupku

menjadi pelita
pembimbing dan penuntun jalan ini
agar tidak rapuh
agar tidak lelah 
dan selalu kuat
dalam setiap langkah menuju ridhaMu 


Ya Allah ..
pilihkan satu yang terbaik menurutMu
bagi kehidupanku
agamaku, duniaku dan juga akhiratku kelak
karena hanya padaMu semua harap tertuju
dan karena Engkaulah yang paling mengetahui
apa yang terbaik bagi setiap hambaMu




!_!

Saturday, October 17, 2015

bagaimanapun mawar memang hanya bisa diam dan menunggu
kumbang yang datang, dan mendekat padanya




Wednesday, September 30, 2015

....

for all of these desires

and all of dreams

about love and hope

can't say more explanation


three words enough:

'pasangan dunia akhirat'

aamiin yaa Allah ...

Saturday, September 12, 2015

My beloved family V (When 2 become 1 ) ^^





Satu bulan telah berlalu ...

                Ryan adalah sepupu Rangga, dan sore ini ia akan melamar seorang wanita pilihannya. Beberapa orang sanak keluarganya yang lain juga ikut. Tidak ada acara yang formal sebenarnya, tapi Bibi Maryam, ibunya Ryan meminta Rangga agar juga ikut menemani mereka. Karena Ryan memang cukup dekat dengan Rangga, terlebih setelah ayahnya wafat beberapa tahun yang lalu.

Saat perjalanan ke tempat yang dituju, semua keluarga saling bercengkerama. Apalagi karena mereka memang jarang bertemu jika bukan pada saat momen-momen tertentu, seperti sekarang ini misalnya. Kebetulan Aini tidak ikut dengan Rangga, karena Aisha putri kecil mereka sedang kurang sehat jadi sedikit rewel.
“Alhamdulillah ya, akhirnya kamu mau menikah juga”, tukas Rangga. Yang ditanya akhirnya bisa terseyum juga, karena sejak berangkat tadi wajahnya terlihat cukup tegang

 “Ya iyalah Mas, saya kan masih normal :p  Bukannya Mas Rangga juga yang suka ngomporin saya biar cepet-cepet nikah”, balas Ryan sambil tertawa. Rangga pun ikut tertawa.
 “Insya Allah saya sangat yakin dengan pilihan saya ini, meskipun dia punya masa lalu yang menyedihkan buatnya”, ungkap Ryan kembali, namun ekspresinya kali ini tidak sesumringah tadi.

“Maksudmu?”, wajah Ryan terlihat penuh tanya.

“Hmmm.. ya setiap orang pasti punya cerita dalam hidupnya. Yang penting saya sudah tidak mempersoalkan hal itu, begitu juga ibu yang mengerti dan sudah merestui saya, jadi tidak ada lagi yang perlu diragukan. Insya Allah dia adalah calon istri yang baik. Pokoknya ga jauh beda deh dengan Mba Aini ...”, Ryan kembali tersenyum.

Rangga ingat, dulu saat Ryan kuliah ia pernah dekat dengan teman kampusnya yang juga seorang model majalah remaja, Sarah. Tapi akhirnya mereka tidak dekat lagi, karena sikap Sarah yang tidak ingin dibatasi. Ryan menginginkan agar Sarah berhenti untuk menjadi model, tapi ia tidak mau. Ryan juga tidak ingin Sarah terlalu mengekspos dirinya dan menjadi konsumsi publik. Namun Sarah justru semakin mengukuhkan keinginannya untuk menjadi model profesional. Ryan juga sempat frustasi beberapa saat  karena berpisah dengan Sarah. Karena mereka sudah berhubungan sejak masih SMA. Rangga yang memang dekat dengan Ryan sepupunya itu akhirnya menasehatinya agar tidak lagi berpacaran, hanya akan mendekatkan pada maksiat. Jika memang sudah siap kelak, maka menikahlah. Carilah wanita yang baik terutama agamanya dan juga kau sukai untuk dinikahi, nasehat Rangga saat itu padanya. Ryan pun menurutinya, dan sejak saat itu Ryan tidak pernah dekat lagi dengan wanita manapun. Syukurlah jika sekarang Ryan telah menemukan pasangan yang cocok yang ia yakini untuk menjadi pendamping hidupnya, kata Rangga dalam hati.

“Oh ya .. alhamdulillah kalau kamu sudah sangat yakin”, kata Rangga sambil menepuk bahu sepupunya itu. Dan entah mengapa tiba-tiba saja ia berpikir tentang Nadia. Dalam hatinya ia pun berharap Nadia juga bisa mendapatkan pasangan yang cocok untuk dirinya suatu saat nanti.

Perjalanan yang ditempuh sudah satu jam lebih. Ryan yang awalnya tadi nampak sedikit tidak tenang, kini terlihat lebih santai. Ia sudah sangat siap sepertinya.

“Sebentar lagi nih kita sampai ..”, ujar Ryan kepada semua orang yang ada di dalam mobilnya. 

“Lho, ini kan arah ke kampusku dulu”, tukas Rangga yang terus menatap ke luar memperhatikan sekelilingnya.

“Iya Mas, memang dekat-dekat sini rumahnya”, kata Ryan sambil terus fokus menyetir. Sedang Rangga masih terus memperhatikan keadaan sekelilingnya. Sudah lama ia tidak melewati jalan ini, keadaan sudah banyak berubah. Rangga memang sangat mengenal jalan ini, sebuah tikungan, ada masjid dan ... Ya akhirnya Rangga ingat, bahwa ini adalah jalan menuju ke rumah Nadia. Dulu ia pernah beberapa kali ke sana karena urusan kegiatan kampus, bersama dengan beberapa temannya yang lain.

“Kenapa Mas?”, tanya Ryan

“Ngga apa-apa, dulu Mas punya teman yang tinggal deket sini, beberapa rumah setelah masjid itu.

“Oh ya, calon saya juga deket –deket situ rumahnya”, jawab Ryan santai.

“Benarkah??”, rasa penasaran Ranggga semakin menjadi. “Mas boleh tau namanya siapa?”, Rangga mencoba memastikan.

“Namanya Nadia Mas”, jawab Ryan singkat. Tentunya ia cukup kaget mendengar nama itu.

“Nama lengkapnya?”, tanya Rangga kembali memastikan.

“Nadia Rizky Aulia”

“Masya Allah “, gumam Rangga perlahan. Ternyata wanita yang akan dijadikan istri oleh adik sepupunya ini benar-benar Nadia. Ia jadi kembali teringat kata-kata Nadia waktu itu. Ternyata laki-laki yang ia maksudkan adalah Ryan sepupunya. Dan ia juga cukup kagum dengan ketulusan hati sepupunya ini, yang tidak mempermasalahkan sama sekali tentang status Nadia. Dengan keyakinannnya ia mengetahui bahwa Nadia adalah wanita yang baik. Bagi seorang muslim sejati, menikah tidak hanya sekedar nafsu, melainkan suatu bentuk ibadah mulia yang diperintahkan oleh Allah dan juga RasulNya. Tidak hanya sekedar jalan untuk menghalalkan  hubungan dua insan, tapi juga bagaimana dua insan menyatu dan saling menguatkan dalam ketaatan kepadaNya. Bukan hanya jalan untuk mendapatkan keturunan, tapi bagaimana agar bisa menjaga dan mendidik amanah yang telah Allah titipkan kelak menjadi generasi yang shalih. Rangga menghela nafas lega, terlihat segaris senyum di wajahnya.

“Dia memang temanku Ryan”, ungkap Rangga singkat sambil menatap wajah sepupunya itu. Sepupunya yang atas izinNya kelak akan menjadi suami Nadia. Namun ia belum menceritakan secara detail bagaimana kisah dirinya dan Nadia.

Saat di rumah Nadiapun, Rangga agak sedikit kikuk. Ibunya Nadia yang masih ingat dengan Rangga, juga merasa tidak enak dengan Rangga, karena dulu ialah yang membujuk Nadia agar tidak menerimanya, tapi menerima laki-laki lain anak dari teman ayahnya Nadia. Terlebih lagi Nadia, yang melihat kedatangan Ryan bersama dengan Rangga, dari raut wajahnya terlihat bahwa ia sangat terkejut. Ryan lalu menjelaskan, begitu juga dengan Rangga. Perlahan Rangga berusaha mencairkan suasana, dan akhirnya beberapa saat kemudian suasana menjadi lebih santai. Semuanya berjalan dengan lancar, sesuai kesepakatan mereka akan menikah akhir bulan depan. Dan akhirnya rona kebahagiaan itu terpancar di wajah Nadia.

Minggu pagi keesokan harinya ...

“Alhamdulillah ya Mas “, ujar Aini mengungkapkan rasa syukurnya, lalu duduk di samping Rangga yang baru saja selesai tilawah sepulangnya dari sholat subuh di masjid.

“Iya, alhamdulillah ..”, sahut Rangga

“Eh Mas, kapan-kapan kita tempat Mang Eem yuks, udah lama ga makan sotonya Mang Eem, ayam bakarnya juga. Kangen juga sama Mang Eem, apa kabarnya ya dia sekarang”, ajak Aini pada suaminya.

“Tuhh kaan .. kamu mah gitu, giliran aku yang ga kenapa-kenapa malah dikira kenapa-kenapa.. “, Rangga berpura-pura sedih  pasang wajah manyun. “Ternyata kamu sendiri menyimpan kerinduan yang begitu mendalam sama Mang Eem hiks”

Aini yang mendengarnya jadi sedikit kesal, “Masya Allah Mas, kamu ini yaa ...”, sebuah cubitan khas Aini kembali mendarat, kali ini di pahanya Rangga, dan seperti biasa Rangga akan berpura-pura meringis kesakitan sambil menggosok pahanya. Hingga akhirnya Aini tertawa. Begitu juga Rangga.
Tiba-tiba Ayyash datang menghampiri lalu duduk dekat mereka. “Ummi sama abi kenapa pada ketawa”, tanya Ayyash polos.

                “Ehh ada kakak Ayyash”, sapa Rangga pada si sulung. “Ga ada apa-apa, ada yang lucu tadi. Adekmu mana Yash? ”

                “Aisha masih bobo bi .. Oh ya, kemarin sore-sore Om Hanif ngasih ini, tapi Ayyash lupa ngasih tau Ummi. Om Hanif mau nikah ..”, ujar Ayyash sambil menunjukkan sebuah undangan.

            “Alhamdulillaah ...” , Rangga dan Aini menjawab berbarengan, keduanya saling berpadangan.

“Nikahnya dengan Nadia juga”, ujar Rangga sambil melihat undangan.

“Lho, maksudnya?”, kata Aini heran

“Iya, nama calonnya Nadia juga, dan persis satu minggu sebelum nikahnya Ryan sama Nadia”, Rangga menjelaskan.

“Subhanallah .. rencana Allah kadang tidak seperti yang kita kira, tapi pasti itulah yang terbaik jika kita benar-benar bertawakkal kepadaNya. Tidak akan salah, tidak akan tertukar, semua telah ditakdirkan olehNya”, Aini kembali mengungkapkan rasa syukurnya.

Pagi yang cerah itu jadi terasa lebih indah dari biasanya. Dan obrolan mereka juga kembali berlanjut, tentang apapun, tentang semua hal yang menjadi bagian dari setiap bab dalam kisah kehidupan mereka. Semakin larut dan semakin hangat, sehangat sinar mentari pagi yang cahayanya mulai menyapa mereka hari itu. 

  
T H E   EN D


dream land !_!


  


One of my dream place, dream land ...
Cuma bisa liat di tv, liat di gambar, denger cerita ':( 
Ya Robb, semoga kelak Engkau izinkan hamba ke tanah suciMu, aamiin Allahumma aamiin ..





Tuesday, September 8, 2015

Rindu ~


Entah sudah berapa lama kau tak datang
membuat rindu ini semakin menjadi
pernah kau hadir saat itu
tapi cuma sesaat, lalu kembali menghilang

dan ternyata bukan aku saja yang rindu
banyak juga yang mengharapkanmu
semua terasa gersang tanpa kedatanganmu

hujan ... datanglah
aku sangat merindukanmu
karena taukah kau
hadirmu adalah bahagiaku yang sederhana



Sunday, August 16, 2015

Marriage is ....







Pernikahan merupakan salah satu perintah Allah dan juga sunnah Rasulullah SAW yang sangat dianjurkan pelaksanaannya bagi setiap muslim. Pernikahan adalah suatu peristiwa yang fitrah, dan sarana paling agung dalam memelihara keturunan dan memperkuat hubungan antar sesama manusia dengan jalan yang Ia ridhoi, dalam suatu perjanjian yang kokoh (mitsaqon ghaliza, QS. Annisa :21) dan suci, yang menjadi sebab terjaminnya ketenangan, cinta, dan kasih sayang. Disebut perjanjian yang kokoh karena hubungan pernikahan  ini dapat terus berlanjut hingga kelak di negeriNya yang kekal bagi siapa saja yang dikehendakiNya, meskipun di dunia mereka telah dipisahkan oleh kematian.

Bahkan Rasulullah pernah melarang sahabat yang berniat untuk meninggalkan nikah agar bisa mempergunakan seluruh waktunya untuk beribadah kepada Allah, karena hidup membujang tidak disyariatkan dalam agama.

Dan tujuan utama pernikahan bagi seorang muslim adalah untuk mengharapkan keridhoan Allah SWT, serta untuk mendapatkan rasa kasih dan sayang dan juga ketenangan.

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” [Qs. Ar. Ruum (30) : 21].

Pada saat semuanya berjalan sesuai dengan yang kita inginkan, tentunya semua akan berjalan baik-baik saja. Namun ada saatnya Allah azza wa jalla akan memberikan ujian dalam kehidupan rumah tangga seseorang, sehingga mereka dituntut akan kesabaran dan juga keikhlasannya dalam menghadapi ujian yang diberikan.

Mungkin kita pernah melihat di sekeliling kita orang yang-orang yang berbahagia dengan pernikahannya, walau banyak ujian yang mereka hadapi namun dapat mereka hadapi dengan sabar dan lapang dada.

Saya belajar banyak hal dari pernikahan orang tua saya. Alhmarhum bapak saya, sampai detik ini, masih menjadi satu-satunya laki-laki yang saya kagumi dan saya cintai, adalah seorang ayah yang baik dan hebat menurut saya. Atas tanggung jawabnya, perhatiannya, dan kasih sayangnya pada keluarga. Dan baru sangat saya sadari ketika dirinya telah tiada. Walau tidak ditunjukkan dengan kata-kata, namun dengan sikap dan perbuatannya. Ia justru terlihat tegas,  akan tetapi saya bisa merasakan rasa kasih sayang darinya. Ia yang sudah lelah bekerja setiap harinya, namun tidak malu untuk membantu menggantikan istrinya untuk berbelanja ke pasar, bahkan juga  tidak segan untuk membantu mengerjakan pekerjaan rumah yang ia bisa, saat istrinya tidak sempat mengerjakan atau sedang sakit, perhatian dengan anak-anaknya walau hanya sesuatu yang sederhana seperti membantu membuat PR, memotongi kuku, dll. Mengajarkan kebaikan-kebaikan, meskipun hanya hal-hal kecil namun hal tersebut menjadi hal yang terus saya ingat.
Dan setelah ia tiada, ibu saya tetap sabar juga berusaha dengan kemampuannya agar anak-anaknya dapat hidup cukup walau dengan segala keterbatasan dan kesedrerhanaan. Tetap mencintai suaminya, dengan menceritakan kebaikan-kebaikannya kepada anak-anaknya, dan juga selalu menyuruh mereka agar selalu mendoakannya.
Semoga Allah selalu merahmati, dan mempertemukan kalian kembali kelak di jannahNya, aamiin yaa Robb !_!

Lalu kisah dua orang akhwat yang pernah saya kenal. Yang waktu itu keduanya belum dikaruniai buah hati, dengan pernikahan yang sudah lebih dari lima tahun. Tapi yang saya lihat suami-suami mereka justru sangat menyayangi mereka. Jadi jangankan ingin berpaling dengan wanita lain karena alasan belum memiliki keturunan, justru mereka menjadi support dan semangat bagi istri mereka sambil terus berikhtiar untuk dapat memiliki keturunan. Bahkan menurut saya, mereka terlihat jadi lebih romantis, karena setiap hari dua-duan terus :)  Dan alhamdulillah, keduanya kini telah diakuruniai buah hati.

Satu lagi contoh real yang pernah saya lihat di suatu tayangan tv (variety show). Seorang suami sebut saja bapak R, yang sehari-harinya berprofesi sebagai tukang ojeg. Itupun bukan dengan sepeda motor milik sendiri, ia menyewanya dari orang lain. Sehingga dengan penghasilan yang diterimanya setiap hari, harus ia sisihkan untuk membayar sewa sebesar Rp. 12.000,- .
Yang membuat hati saya amat sangat terenyuh dari kehidupan bapak R ini adalah, ia memiliki seorang istri yang terkena cancer (tidak perlu saya sebutkan jenisnya), sehinggga membuat ia terbaring lemah tak berdaya, dan harus diberi perhatian dan perawatan ekstra. Penyakitnya ini berawal sejak kelahiran anaknya yang ke tiga *syafahallah ... semoga Allah juga memberi kesabaran padanya dan juga keluarganya. Ia pun dengan segenap upayanya, walau dengan penghasilan minim, berusaha mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk pengobatan istrinya, termasuk dengan meminjam sana sini. Terlihat tak ada keluhan yang keluar dari mulutnya sedikitpun, dan ia sangat berharap agar istrinya segera cepat sembuh dari penyakitnya, karena ia sangat menyayanginya. Subhanallaah T_T

Memiliki pasangan hidup yang taat padaNya, dan juga sangat menyayangi kita dalam keadaan dan kondisi apapun tentulah menjadi dambaan bagi banyak orang. Namun sebaliknya, idealnya kita pun harus bersikap demikian.

Ya, itulah makna sebuah pernikahan yang terinspirasi dari berbagai sumber. Bagaimana masing-masing pasangan, dituntut untuk saling menyayangi, menghargai, mengormati, memberi perhatian, dan semua bentuk kasih dan sayang lainnya agar tercipta tujuan mulia pernikahan yaitu sakinah mawaddah warahmah. Saling memahami dan menerima kekurangan, karena kalau dengan kelebihan siapapun pasti akan senang-senang saja menerimanya. Dan sebisa mungkin berusaha menjadi pelengkap kekurangan pasangannya, memperbaikinya atau bahkan menyempurnakannya.

Selain itu, jika ridho Allah menjadi tujuan utama saat pernikahan, maka saling menguatkan dalam ketaatan kepadaNya akan selalu dilakukan dan terus terjaga. Sehingga tidak lalai, bahwa pernikahan itu adalah karuniaNya yang harus selalu disyukuri, dan juga menjadi jalan untuk semakin dekat kepadaNya.

Allahu a’lam ...

Untuk yang baru saja menikah:
seorang adiknya teman saya
dan seorang temannya adik saya
dan juga sepupu saya
semoga pernikahan kalian selalu dalam limpahan berkah dan karuniaNya

Barakallahu lakuma wa baraka 'alaykuma wajama’a bayna kuma fii khair


*** Note ini adalah sebagai reminder bagi diri, kelak jika
       saya berada dalam "chapter' ini atas seizinNya, maka saya
       harus menjadi istri yang baik
       begitu pula sama halnya dengan yang saya harapkan dari     pasangan saya :)

Saturday, July 25, 2015

When 'the time' has come .......

Tak terasa sudah seminggu kepergian uwa. Seminggu yang lalu, dia telah berpulang ke rahmatullah karena sakit yang didieritanya.
Dan ini adalah kedua kalinya, momen suasana duka terjadi pada saat hari raya, saat berkumpulnya keluarga, kami kehilangan seseorang dari keluarga besar.

Saya sebenarnya tidak terlalu dekat dengan beliau, apalagi sejak pindah ke bekasi.
Tapi satu hal yang sangat saya sukai darinya, selain kata-katanya yang kadang nyablak dengan logat betawinya sehingga membuat orang tertawa, beliau adalah orang yang sangat rajin ke masjid jika sakitnya sedang tidak kambuh.
Jika azan berkumandang, ia bergegas mengganti baju, sarung dan juga pecinya untuk pergi ke masjid yang memang tak jauh dari rumahnya.
Dan satu hal lagi yang saya sangat ingat darinya, setiap kali bertemu dan mencium tangannya, "semoga ani cepet dapet jodoh ya ni ...." :'(

Sejatinya memang hanya menunggu giliran
kita semua akan kembali kepada pemilik diri ini sesungguhnya

Semoga uwa' khusnul khotimah,
diterima semua amal ibadahnya dan ditempatkan di sebaik-baik tempat di sisiNya

Aamiin allahumma aamiin .........


Tuesday, July 14, 2015

Ketika Ramadhan pergi ............

Jika ada seseorang yang kita rindukan kehadirannya, sanak saudara, kerabat, sahabat, atau siapapun, dan tiba-tiba ia datang dan bermalam di rumah kita beberapa hari, tentu kita akan merasa senang. Dan kita pasti akan melayaninya dengan baik, dan menyuguhkan hidangan terbaik yang kita miliki dirumah kita. Karena Rasulullah pun menganjurkan kita untuk memuliakan siapapun tamu yang berkunjung ke rumah kita.         Sang tamu juga datang dengan membawa banyak oleh-oleh dan hadiah untuk kita, yang membuat kita merasa senang. Dan jika tiba saatnya ia akan pergi, pastilah kita akan merasa sedih. Apa bisa bertemu dengannya lagi di lain waktu .....

Begitu pula dengan Ramadhan, tidak terasa begitu cepat waktu berlalu dan Ramadhan pun akan pergi meninggalkan kita. Bulan yang penuh ampunan, keberkahan, dan rahmat dariNya.
Jika pada moment tertentu mall-mall dan pusat perbelajaan memberikan diskon besar-besar kepada pembelinya, begitu pula dengan Allah di bulan Ramadhan ini. Allah mengobral pahala besar-besaran untuk hamba-hambaNya.

Rasulullah SAW bersabda, "Hai sekalian manusia akan datang bulan yang agung (Ramadan) yaitu bulan yang penuh berkah di dalamnya. Dalam bulan itu ada malam yang mulia (Lailatul Qadar) yang lebih utama daripada seribu bulan. Allah telah mewajibkan puasa di bulan itu, dan salat tarawih di malamnya sebagai ibadah sunah. Barang siapa yang melakukan kebaikan (ibadah sunah) di bulan itu pahalanya seperti melakukan ibadah wajib dibanding bulan yang lainnya. Dan barang siapa melakukan kewajiban di dalamnya, maka pahalanya seperti melakukan 70 kewajiban dibanding bulan lainnya. Bulan Ramadan adalah bulan ditambahnya rizki orang mukmin, bulan di awalnya menjadi rahmat, di tengahnya menjadi ampunan, dan di akhirnya merupakan kebebasan dari neraka." (H.R. Ibnu Huzaimah)

Dalam hadis lain yang diriwayatkan Ath-Thabrani, Rasulullah SAW pun berkata, "Seandainya umatku mengerti kebaikan-kebaikan yang ada di bulan ini (Ramadan), niscaya umatku mengharapkan dalam setahun menjadi Ramadan semuanya."

Dan di bulan mulia ini juga, kondisi keimanan muslim pada umumnya menjadi meningkat. Menjadi lebih rajin beribadah, mengingat pahala dan balasan yang dijanjikan oleh Allah. menjadi rajin sholat malam, padahal mungkin kita tidak serajin ini di luar Ramadhan. Jadi semangat tilawah, bahkan mungkin bisa khatam, bahkan mungkin juga lebih dari satu kali. Begitu juga dengan ibadah-ibadah lainnya. Subhanallah ... padahal kita dalam kondisi lapar, haus, dan lelah karena berpuasa. Itulah rahmat dari Allah .....

Terlebih lagi malam lailatul qodr yang begitu mulia. Allah semakin melipat gandakan pahalanya, senilai  dengan ibadah selama 1000 bulan. Maha Besar Allah dengan segala kemuliaan dan juga kemurahanNya.

Dan beberapa hari lagi, Ramadhan akan segera berakhir, pergi meninggalkan kita. Terkadang terbesit sesal dalam diri, apakah kita telah 'menjamunya dengan sebaik-baik jamuan yang kita miliki'  T_T

Ya Allah ...
Semoga Engka menerima, segenap upaya kami dalam beribadah padaMu
Ampunilah semua dosa-dosa kami
maafkan semua kekhilafan dan salah kami

Ijabahlah setiap do-doa dan harapan-harapan kami di bulan mulia ini :'(
dan pertemukanlah kami kembali dengan RamadhanMu tahun depan

Aamiin Allahumma aamiin ..........

T_T



27 Ramadhan 1436 H






Monday, June 22, 2015

My Beloved Family IV


“Tumben kau ingin bicara padaku”, tanya Nadia pada suatu ketika saat Rangga menyapanya sutau pagi di depan musholah yang baru saja selesai sholat Dhuha sama seperti dirinya.  Rangga memang menunggu kesempatan agar bisa bertemu dengan Nadia.  Bukan karena apa-apa, tapi ia telah berjanji pada istrinya untuk menyampaikan suatu hal kepada Nadia. 

“Apa ada hal penting yang dibicarakan?”, Nadia kembali bertanya karena Rangga juga belum menjawab pertanyaannya. 

“Ya Nad, menurutku hal ini memang penting buatmu, untuk masa depanmu”

“Oh, ya, tentang apa?”, Nadia tampak  mengernyitkan dahinya. Beberapa saat kemudian Rangga mulai berbicara tentang niatnya dan Aini untuk mengenalkannya pada Hanif. Mengingat Hanif dan Nadia yang masih sama-sama sendiri, tidak ada salahnya jika mengenalkan mereka satu sama lain. Mungkin saja mereka berjodoh. Namun ia tetap berhati-hati saat berbicara agar Nadia tidak merasa  tersinggung. Nadia hanya tertunduk mendengarkan, diam tanpa sepatah kata pun.

Aku mengerti Nad, dirimu memang hanya beberapa menit saja menceritakan tentang kesedihan yang kau rasakan padaku saat itu, namun nyatanya kepedihanmu itu tidak hanya dalam hitungan menit, tapi hari, bulan bahkan mungkin bertahun lamanya. Memang tidak mudah untuk kembali membuka hatimu bagi orang lain, tapi kau memang harus melupakan semua kesedihanmu  Nadia. Rangga hanya mampu berkata-kata dalam hati.

“Aku sangat mengerti maksud baikmu dan juga istrimu. Namun saat inipun aku sedang bingung. Seseorang juga sedang menunggu kepastian jawaban dariku”, ungkap Nadia setalah terdiam beberapa saat.

“Oh yaa, ada yang ingin berniat baik padamu, maksudku ada seseorang yang berniat  untuk melamarmu?”, Rangga menegaskan.

“Ya, memang ada laki-laki yang berniat baik padaku. Tapi entahlah, aku sendiri belum yakin”

“Apa yang membuatmu tidak yakin, dia teman satu kerjaan denganmu atau..”

“Ia memang pernah satu kantor denganku, tapi kemudian ia memutuskan untuk resign dan menerima tawaran di tempat lain. Setahuku dia orangnya baik, cukup santun, dan ia juga taat”

“Lalu apa lagi yang kau ragukan Nad ? Dari keempat hal yang menjadi dasar dalam mencari pasangan yaitu karena  rupa, hartanya, nasabnya dan agamanya, maka utamakanlah agamanya. Jika kau cukup mengetahui bahwa agama dan akhlaqnya baik, saranku maka terimalah dirinya”

“Aku tau Ngga, tapi dengan perbedaan usia yang cukup signifikan membuat hatiku belum cukup yakin untuk menerimanya. Usia kami kami terpaut tujuh tahun, aku hanya takut salah dalam memutuskan ...”

“Benarkah ... “,  Rangga merasa sedikit kaget mendengarnya. Tapi apapun memang bisa terjadi, bila Allah menghendaki. Pandangan Rangga mengarah ke Nadia yang kembali tertunduk.

“Rasulullah SAW dan Khadijah pada saat menikah pun terpaut usia yang tidak sedikit, lima belas tahun. Namun Rasulullah begitu memuliakan istrinya itu, bahkan ketika telah tiada. Itu karena memang Khadijah adalah wanita shalihah dan mulia, yang dengan segala bentuk pengabdian dan ketaatannya,  mengabdikan diri sepenuh hati sebagai pedamping hidup seorang nabiyullah”.

“Tapi aku bukan Khadijah, tidak semulia beliau, tidak...” 

“Dan apa kau juga sangat yakin, bahwa laki-laki itu juga semulia dan sehebat Rasulullah?? Tak ada manusia yang sempurna di  muka bumi ini”

Nadia mengangkat kepalanya, sambil sesekali menyeka airmata yang membasahi pipinya, namun masih tetap terdiam.

“Jika kau belum haqqul yaqin, istikharahlah, mudah-mudahan Allah memberimu petunjuk..”, Rangga berusaha menenangkan Nadia dengan kata-katanya itu, dan sesaat kemudian ia beranjak melangkah untuk kembali ke kantornya

“Terima kasih Ngga..”, kata Nadia setengah berteriak pada Rangga yang hampir menjauhinya. Rangga menoleh sambil tersenyum lalu meneruskan langkahnya. How lucky your wife is .. gumamnya perlahan.



                                                                         still to be continued ..



* * * Every story in this blog was fictive only, but someparts of those stories were inspired by the real story of some people