“Tumben kau ingin bicara padaku”, tanya Nadia pada suatu ketika saat
Rangga menyapanya sutau pagi di depan musholah yang baru saja selesai sholat
Dhuha sama seperti dirinya. Rangga memang
menunggu kesempatan agar bisa bertemu dengan Nadia. Bukan karena apa-apa, tapi ia telah berjanji
pada istrinya untuk menyampaikan suatu hal kepada Nadia.
“Apa ada hal penting yang dibicarakan?”, Nadia kembali bertanya karena
Rangga juga belum menjawab pertanyaannya.
“Ya Nad, menurutku
hal ini memang penting buatmu, untuk masa depanmu”
“Oh, ya,
tentang apa?”, Nadia tampak
mengernyitkan dahinya. Beberapa saat kemudian Rangga mulai berbicara tentang
niatnya dan Aini untuk mengenalkannya pada Hanif. Mengingat Hanif dan Nadia
yang masih sama-sama sendiri, tidak ada salahnya jika mengenalkan mereka satu
sama lain. Mungkin saja mereka berjodoh. Namun ia tetap berhati-hati saat
berbicara agar Nadia tidak merasa
tersinggung. Nadia hanya tertunduk mendengarkan, diam tanpa sepatah kata
pun.
Aku mengerti
Nad, dirimu memang hanya beberapa menit saja menceritakan tentang kesedihan
yang kau rasakan padaku saat itu, namun nyatanya kepedihanmu itu tidak hanya
dalam hitungan menit, tapi hari, bulan bahkan mungkin bertahun lamanya. Memang
tidak mudah untuk kembali membuka hatimu bagi orang lain, tapi kau memang harus
melupakan semua kesedihanmu Nadia. Rangga
hanya mampu berkata-kata dalam hati.
“Aku sangat
mengerti maksud baikmu dan juga istrimu. Namun saat inipun aku sedang bingung.
Seseorang juga sedang menunggu kepastian jawaban dariku”, ungkap Nadia setalah
terdiam beberapa saat.
“Oh yaa, ada yang
ingin berniat baik padamu, maksudku ada seseorang yang berniat untuk melamarmu?”, Rangga menegaskan.
“Ya, memang
ada laki-laki yang berniat baik padaku. Tapi entahlah, aku sendiri belum yakin”
“Apa yang
membuatmu tidak yakin, dia teman satu kerjaan denganmu atau..”
“Ia memang
pernah satu kantor denganku, tapi kemudian ia memutuskan untuk resign dan menerima tawaran di tempat
lain. Setahuku dia orangnya baik, cukup santun, dan ia juga taat”
“Lalu apa lagi
yang kau ragukan Nad ? Dari keempat hal yang menjadi dasar dalam mencari
pasangan yaitu karena rupa, hartanya, nasabnya dan agamanya, maka utamakanlah agamanya. Jika kau cukup mengetahui
bahwa agama dan akhlaqnya baik, saranku maka terimalah dirinya”
“Aku tau Ngga,
tapi dengan perbedaan usia yang cukup signifikan membuat hatiku belum cukup
yakin untuk menerimanya. Usia kami kami terpaut tujuh tahun, aku hanya takut salah
dalam memutuskan ...”
“Benarkah ...
“, Rangga merasa sedikit kaget
mendengarnya. Tapi apapun memang bisa terjadi, bila Allah menghendaki. Pandangan
Rangga mengarah ke Nadia yang kembali tertunduk.
“Rasulullah
SAW dan Khadijah pada saat menikah pun terpaut usia yang tidak sedikit, lima
belas tahun. Namun Rasulullah begitu memuliakan istrinya itu, bahkan ketika
telah tiada. Itu karena memang Khadijah adalah wanita shalihah dan mulia, yang
dengan segala bentuk pengabdian dan ketaatannya, mengabdikan diri sepenuh hati sebagai
pedamping hidup seorang nabiyullah”.
“Tapi aku
bukan Khadijah, tidak semulia beliau, tidak...”
“Dan apa kau
juga sangat yakin, bahwa laki-laki itu juga semulia dan sehebat Rasulullah??
Tak ada manusia yang sempurna di muka bumi
ini”
Nadia mengangkat
kepalanya, sambil sesekali menyeka airmata yang membasahi pipinya, namun masih
tetap terdiam.
“Jika kau belum
haqqul yaqin, istikharahlah, mudah-mudahan Allah memberimu petunjuk..”, Rangga
berusaha menenangkan Nadia dengan kata-katanya itu, dan sesaat kemudian ia
beranjak melangkah untuk kembali ke kantornya
“Terima kasih
Ngga..”, kata Nadia setengah berteriak pada Rangga yang hampir menjauhinya.
Rangga menoleh sambil tersenyum lalu meneruskan langkahnya. How lucky your wife is .. gumamnya
perlahan.
still to be continued ..
* * * Every story in this blog was fictive only, but someparts of those stories were inspired by the real story of some people

