Search This Blog

Popular Posts

Monday, June 22, 2015

My Beloved Family IV


“Tumben kau ingin bicara padaku”, tanya Nadia pada suatu ketika saat Rangga menyapanya sutau pagi di depan musholah yang baru saja selesai sholat Dhuha sama seperti dirinya.  Rangga memang menunggu kesempatan agar bisa bertemu dengan Nadia.  Bukan karena apa-apa, tapi ia telah berjanji pada istrinya untuk menyampaikan suatu hal kepada Nadia. 

“Apa ada hal penting yang dibicarakan?”, Nadia kembali bertanya karena Rangga juga belum menjawab pertanyaannya. 

“Ya Nad, menurutku hal ini memang penting buatmu, untuk masa depanmu”

“Oh, ya, tentang apa?”, Nadia tampak  mengernyitkan dahinya. Beberapa saat kemudian Rangga mulai berbicara tentang niatnya dan Aini untuk mengenalkannya pada Hanif. Mengingat Hanif dan Nadia yang masih sama-sama sendiri, tidak ada salahnya jika mengenalkan mereka satu sama lain. Mungkin saja mereka berjodoh. Namun ia tetap berhati-hati saat berbicara agar Nadia tidak merasa  tersinggung. Nadia hanya tertunduk mendengarkan, diam tanpa sepatah kata pun.

Aku mengerti Nad, dirimu memang hanya beberapa menit saja menceritakan tentang kesedihan yang kau rasakan padaku saat itu, namun nyatanya kepedihanmu itu tidak hanya dalam hitungan menit, tapi hari, bulan bahkan mungkin bertahun lamanya. Memang tidak mudah untuk kembali membuka hatimu bagi orang lain, tapi kau memang harus melupakan semua kesedihanmu  Nadia. Rangga hanya mampu berkata-kata dalam hati.

“Aku sangat mengerti maksud baikmu dan juga istrimu. Namun saat inipun aku sedang bingung. Seseorang juga sedang menunggu kepastian jawaban dariku”, ungkap Nadia setalah terdiam beberapa saat.

“Oh yaa, ada yang ingin berniat baik padamu, maksudku ada seseorang yang berniat  untuk melamarmu?”, Rangga menegaskan.

“Ya, memang ada laki-laki yang berniat baik padaku. Tapi entahlah, aku sendiri belum yakin”

“Apa yang membuatmu tidak yakin, dia teman satu kerjaan denganmu atau..”

“Ia memang pernah satu kantor denganku, tapi kemudian ia memutuskan untuk resign dan menerima tawaran di tempat lain. Setahuku dia orangnya baik, cukup santun, dan ia juga taat”

“Lalu apa lagi yang kau ragukan Nad ? Dari keempat hal yang menjadi dasar dalam mencari pasangan yaitu karena  rupa, hartanya, nasabnya dan agamanya, maka utamakanlah agamanya. Jika kau cukup mengetahui bahwa agama dan akhlaqnya baik, saranku maka terimalah dirinya”

“Aku tau Ngga, tapi dengan perbedaan usia yang cukup signifikan membuat hatiku belum cukup yakin untuk menerimanya. Usia kami kami terpaut tujuh tahun, aku hanya takut salah dalam memutuskan ...”

“Benarkah ... “,  Rangga merasa sedikit kaget mendengarnya. Tapi apapun memang bisa terjadi, bila Allah menghendaki. Pandangan Rangga mengarah ke Nadia yang kembali tertunduk.

“Rasulullah SAW dan Khadijah pada saat menikah pun terpaut usia yang tidak sedikit, lima belas tahun. Namun Rasulullah begitu memuliakan istrinya itu, bahkan ketika telah tiada. Itu karena memang Khadijah adalah wanita shalihah dan mulia, yang dengan segala bentuk pengabdian dan ketaatannya,  mengabdikan diri sepenuh hati sebagai pedamping hidup seorang nabiyullah”.

“Tapi aku bukan Khadijah, tidak semulia beliau, tidak...” 

“Dan apa kau juga sangat yakin, bahwa laki-laki itu juga semulia dan sehebat Rasulullah?? Tak ada manusia yang sempurna di  muka bumi ini”

Nadia mengangkat kepalanya, sambil sesekali menyeka airmata yang membasahi pipinya, namun masih tetap terdiam.

“Jika kau belum haqqul yaqin, istikharahlah, mudah-mudahan Allah memberimu petunjuk..”, Rangga berusaha menenangkan Nadia dengan kata-katanya itu, dan sesaat kemudian ia beranjak melangkah untuk kembali ke kantornya

“Terima kasih Ngga..”, kata Nadia setengah berteriak pada Rangga yang hampir menjauhinya. Rangga menoleh sambil tersenyum lalu meneruskan langkahnya. How lucky your wife is .. gumamnya perlahan.



                                                                         still to be continued ..



* * * Every story in this blog was fictive only, but someparts of those stories were inspired by the real story of some people



Wednesday, June 3, 2015