Search This Blog

Popular Posts

Friday, March 6, 2015

Keteladanan Seorang Proklamator





Ternyata bukan saya saja yang mengagumi sosok ini *ya iyalah, tapi orang-orangpun banyak yang mengaguminya. Beberapa waktu lalu sempat membaca sebuah tulisan surat kabar yang isinya juga mengisahkan beliau, dan beberapa hari yang lalu juga melihat acara dialog di TVRI yang antara lain juga memeperbincangkan beliau. Ia adalah petinggi negeri terdahulu negeri ini, yang terkenal dengan kejujuran, kesederhanaan juga kecintaannya kepada bangsa ini,  dan juga uncorruptable. Dialah Bung Hatta, sang poklamator kemerdekaan. Dan saya juga menganggapnya sebagai sosok seorang pemimpin sejati.

Pemimpin sejati memang tidak dilahirkan di setiap masa. Mereka biasanya hadir dalam suasana  kekacauan atau kericuhan di suatu negeri, dan kehadiran mereka akan selalu membawa secercah harapan dan juga penyelesaian dari masalah-masalah yang ada, dan bukan membawa persoalan baru yang justru membuat keadaan menjadi semakin runyam. Bukan pula yang selalu menyalahkan pihak-pihak lain atas terjadinya berbagai masalah, tanpa mengoreksi kemampuan diri sendiri, apalagi dengan meluapkan kemarahan tanpa memberikan solusi yang jelas, menganggap  dirinya paling benar, paling hebat dari yang lainnya. Bukan sikap arogansinya yang ditonjolkan tapi dedikasinya yang tinggi terhadap jabatan yang dimilikinya, dengan mengedapankan kepentingan orang lain/rakyat yang dipimpinnya di atas kepentingan pribadi. Sebab itu adalah amanah yang kelak harus dipertanggungjawabkan, tidak hanya di dunia tapi juga kelak di akhirat.

Pemimpin sejati juga tidak akan menyengsarakan rakyatnya, apapun kebijakan-kebijakan yang diputuskannya. Tidak semakin membuat rakyat menderita, dan rakyat tidak mengeluhkan keadaan apapun sejak kepemimpinannya. Justru sebaliknya ia berusaha semaksimal mungkin bagaimana agar rakyat yang tengah hidup dalam kemiskinan akan menjadi semakin baik tingkat kehidupannya, semakin sejahtera dalam kepemimpinannya.
Pemimpin sejati pun selalu menjadi teladan bagi orang-orang yang dipimpinnya baik itu bawahan, atau rakyatnya. Baik dari segi sikap, kepribadian, kehidupan peribadinya, dsb. Contoh paling konkrit ialah junjungan kita Nabi Muhammad SAW. Semua aspek yang ada pada dirinya menjadi sebaik-baik teladan bagi kita, bagi seluruh umat manusia.

Dan tentang Bung Hatta, dialah orang yang telah berjasa dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia. Atas rahmat Allah SWT dan juga melalui beliaulah  akhirnya kita bisa merasakan nikmat menjadi bangsa yang merdeka. Membaca dari berbagai sumber tentang kisahnya, membuat hati berdecak kagum sekaligus terenyuh.

Kisah Bung Hatta yang hingga akhir hayatnya tidak mampu membeli sepatu Bally yang sangat diidamkannya. Ia hanya mampu menyimpan guntingan iklan dari sepatu tersebut. Jadi jangankan punya rekening gendut, penghasilannya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya setiap bulan. Bahkan terkadang ia mengeluhkan tak mampu membayar rekening PAM dan listrik kepada keluarganya. 

Padahal jika dibandingkan dengan jasanya yang sangat besar dalam meraih kemerdekaan bangsa ini, menjadi pemimpin delegasi perundingan dengan Belanda, hingga akhirnya Belanda mau mengakui kedaulatan Indonesia, sangat tidak sebanding dengan harga sebuah sepatu Bally tersebut. Jika ia seorang yang tidak jujur, dengan koneksi yang luas di sana sini tentulah sangat mudah dengan jabatan yang dimilikinya jika hanya untuk mendapatkan sebuah sepatu branded
 
Dialah sosok sangat jujur dan sederhana, yang enggan meminta-meminta kepada orang/bangsa lain hanya untuk kebutuhan pribadinya. Ia lebih memilih untuk hidup bersahaja dan membatasi konsumsinya. Dan iapun tidak ingin hidup bermewah-mewah apalagi dengan memintanya dari negara, sedang bangsanya hidup dalam keadaan susah payah.

Saat pemerintah memutuskan kebijakan sanering pun (pemotongan nilai uang), ia tak lebih dahulu memberitakan hal tersebut kepada keluarganya. Saat istrinya bertanya mengapa tidak memberitahukan dulu pada keluarganya, dengan tenang beliau menjawab, “Itu adalah rahasia negara, jadi tidak boleh diberitahukan meskipun kepada keluarga sendiri. Kepentingan negara tidak ada sangkut-pautnya dengan usaha memupuk kepentingan keluarga. Rahasia negara adalah tetap rahasia. Sunggguhpun saya bisa percaya kepadamu, tetapi rahasia ini tidak patut dibocorkan kepada siapapun. Biarlah kita rugi sedikit, demi kepentingan seluruh negara. Kita coba menabung lagi, ya ... “. Subhanallah .. sangat berbanding terbalik dengan keadaan beberapa (oknum) petinggi negeri saat ini. Dengan kedudukan tinggi dan koneksi yang dimiliki, berusaha memuluskan setiap proyek pribadi agar bisa meraih keuntungan besar, uang negara pun terkadang tidak malu lagi untuk digunakan. Dan anehnya lagi sudah jelas-jelas bersalah namun terkadang masih saja disanjung-sanjung, diberi red carpet. Yang  tidak bersalah malah dijebloskan ke jeruji besi karena adanya berbagai kepentingan. Innalillaah ...

Dan karena banyak perbedaan visi dan misi dengan Bung Karno, akhirnya ia mengundurkan diri sebagai wakil kepala negara. Namun beliau tetap mengkritisi kebijakan Soekarno meskipun tidak menjadi Wapres lagi, dan ia pun tidak memutuskan silaturrahim dengan Bung Karno. 


Kesederhanaannya juga yang membuatnya berpesan agar dimakamkan di TPU Tanah Kusir bersama-sama rakyat  biasa Indonesia lainnya, bukan bersama para pahlawan di TMP Kalibata.

Saya pun sangat berharap kelak negeri ini bisa dipimpin oleh seorang pemimpin sejati, yang bukan hanya menginginkan kekuasaan tapi benar-benar berniat untuk memperbaiki kondisi negeri ini dalam segala hal. Yang benar-benar serius mengurusi rakyatnya, mecintai rakyatnya dengan berusaha menyelesaikan sederet permsalahan yang ada. Memang semua itu tidak bisa langsung beres secepat kilat, tapi paling tidak upaya-upaya yang dilakukan terlihat jelas, tegas, tidak mencla mencle tapi bukan berarti arogan. Ya semoga saja kelak Allah mengaruniai negeri ini dengan sosok seorang pemimpin sejati yang didambakan oleh setiap rakyat dan umat, Allahumma aamiin ...


“Jika pemimpin selalu ribut dan tidak menyelesaikan masalah, alam yang nanti akan menyelesaikannya” (Jaro Dainah, pemimpin suku Baduy)


Allahu a’lam ...



No comments:

Post a Comment