Ternyata bukan saya saja yang mengagumi sosok ini *ya iyalah, tapi
orang-orangpun banyak yang mengaguminya. Beberapa waktu lalu sempat membaca
sebuah tulisan surat kabar yang isinya juga mengisahkan beliau, dan beberapa
hari yang lalu juga melihat acara dialog di TVRI yang antara lain juga
memeperbincangkan beliau. Ia adalah petinggi negeri terdahulu negeri ini, yang
terkenal dengan kejujuran, kesederhanaan juga kecintaannya kepada bangsa
ini, dan juga uncorruptable. Dialah Bung Hatta, sang poklamator kemerdekaan. Dan
saya juga menganggapnya sebagai sosok seorang pemimpin sejati.
Pemimpin sejati memang tidak dilahirkan di setiap masa. Mereka
biasanya hadir dalam suasana kekacauan
atau kericuhan di suatu negeri, dan kehadiran mereka akan selalu membawa secercah
harapan dan juga penyelesaian dari masalah-masalah yang ada, dan bukan membawa persoalan
baru yang justru membuat keadaan menjadi semakin runyam. Bukan pula yang selalu
menyalahkan pihak-pihak lain atas terjadinya berbagai masalah, tanpa mengoreksi
kemampuan diri sendiri, apalagi dengan meluapkan kemarahan tanpa memberikan
solusi yang jelas, menganggap dirinya
paling benar, paling hebat dari yang lainnya. Bukan sikap arogansinya yang
ditonjolkan tapi dedikasinya yang tinggi terhadap jabatan yang dimilikinya,
dengan mengedapankan kepentingan orang lain/rakyat yang dipimpinnya di atas
kepentingan pribadi. Sebab itu adalah amanah yang kelak harus
dipertanggungjawabkan, tidak hanya di dunia tapi juga kelak di akhirat.
Pemimpin sejati juga tidak akan menyengsarakan rakyatnya, apapun
kebijakan-kebijakan yang diputuskannya. Tidak semakin membuat rakyat menderita, dan rakyat tidak mengeluhkan keadaan apapun sejak kepemimpinannya. Justru sebaliknya ia
berusaha semaksimal mungkin bagaimana agar rakyat yang tengah hidup dalam
kemiskinan akan menjadi semakin baik tingkat kehidupannya, semakin sejahtera dalam
kepemimpinannya.
Pemimpin sejati pun selalu menjadi teladan bagi orang-orang yang
dipimpinnya baik itu bawahan, atau rakyatnya. Baik dari segi sikap,
kepribadian, kehidupan peribadinya, dsb. Contoh paling konkrit ialah junjungan
kita Nabi Muhammad SAW. Semua aspek yang ada pada dirinya menjadi sebaik-baik
teladan bagi kita, bagi seluruh umat manusia.
Dan tentang Bung Hatta, dialah orang yang telah berjasa dalam
memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia. Atas rahmat Allah SWT dan juga
melalui beliaulah akhirnya kita bisa
merasakan nikmat menjadi bangsa yang merdeka. Membaca dari berbagai sumber tentang
kisahnya, membuat hati berdecak kagum sekaligus terenyuh.
Kisah Bung Hatta yang hingga akhir hayatnya tidak mampu membeli sepatu
Bally yang sangat diidamkannya. Ia hanya mampu menyimpan guntingan iklan dari
sepatu tersebut. Jadi jangankan punya rekening gendut, penghasilannya hanya
cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya setiap bulan. Bahkan terkadang ia
mengeluhkan tak mampu membayar rekening PAM dan listrik kepada keluarganya.
Padahal jika dibandingkan dengan jasanya yang sangat besar dalam
meraih kemerdekaan bangsa ini, menjadi pemimpin delegasi perundingan dengan
Belanda, hingga akhirnya Belanda mau mengakui kedaulatan Indonesia, sangat tidak
sebanding dengan harga sebuah sepatu Bally tersebut. Jika ia seorang yang tidak
jujur, dengan koneksi yang luas di sana sini tentulah sangat mudah dengan
jabatan yang dimilikinya jika hanya untuk mendapatkan sebuah sepatu branded
Dialah sosok sangat jujur dan sederhana, yang enggan meminta-meminta
kepada orang/bangsa lain hanya untuk kebutuhan pribadinya. Ia lebih memilih
untuk hidup bersahaja dan membatasi konsumsinya. Dan iapun tidak ingin hidup
bermewah-mewah apalagi dengan memintanya dari negara, sedang bangsanya hidup
dalam keadaan susah payah.
Saat pemerintah memutuskan kebijakan
sanering pun (pemotongan nilai uang), ia tak lebih dahulu memberitakan hal
tersebut kepada keluarganya. Saat istrinya bertanya mengapa tidak
memberitahukan dulu pada keluarganya, dengan tenang beliau menjawab, “Itu
adalah rahasia negara, jadi tidak boleh diberitahukan meskipun kepada keluarga
sendiri. Kepentingan negara tidak
ada sangkut-pautnya dengan usaha memupuk kepentingan keluarga. Rahasia negara
adalah tetap rahasia. Sunggguhpun saya bisa percaya kepadamu, tetapi rahasia
ini tidak patut dibocorkan kepada siapapun. Biarlah kita rugi sedikit, demi
kepentingan seluruh negara. Kita coba menabung lagi, ya ... “. Subhanallah ..
sangat berbanding terbalik dengan keadaan beberapa (oknum) petinggi negeri saat
ini. Dengan kedudukan tinggi dan koneksi yang dimiliki, berusaha memuluskan
setiap proyek pribadi agar bisa meraih keuntungan besar, uang negara pun
terkadang tidak malu lagi untuk digunakan. Dan anehnya lagi sudah jelas-jelas
bersalah namun terkadang masih saja disanjung-sanjung, diberi red carpet. Yang tidak bersalah malah dijebloskan ke jeruji
besi karena adanya berbagai kepentingan. Innalillaah ...
Dan karena banyak perbedaan visi dan misi dengan Bung
Karno, akhirnya ia mengundurkan diri sebagai wakil kepala negara. Namun beliau
tetap mengkritisi kebijakan Soekarno meskipun tidak menjadi Wapres lagi, dan ia
pun tidak memutuskan silaturrahim dengan Bung Karno.
Kesederhanaannya juga yang membuatnya berpesan agar
dimakamkan di TPU Tanah Kusir bersama-sama rakyat biasa Indonesia lainnya, bukan
bersama para pahlawan di TMP Kalibata.
Saya pun sangat berharap kelak negeri ini bisa
dipimpin oleh seorang pemimpin sejati, yang bukan hanya menginginkan kekuasaan
tapi benar-benar berniat untuk memperbaiki kondisi negeri ini dalam segala hal.
Yang benar-benar serius mengurusi rakyatnya, mecintai rakyatnya dengan berusaha
menyelesaikan sederet permsalahan yang ada. Memang semua itu tidak bisa
langsung beres secepat kilat, tapi paling tidak upaya-upaya yang dilakukan
terlihat jelas, tegas, tidak mencla mencle tapi bukan berarti arogan. Ya semoga saja kelak Allah mengaruniai
negeri ini dengan sosok seorang pemimpin sejati yang didambakan oleh setiap
rakyat dan umat, Allahumma aamiin ...
“Jika
pemimpin selalu ribut dan tidak menyelesaikan masalah, alam yang nanti akan
menyelesaikannya” (Jaro Dainah, pemimpin suku Baduy)
Allahu a’lam ...

No comments:
Post a Comment