Search This Blog

Popular Posts

Wednesday, December 10, 2014

My beloved Family (II)



“Ngga terasa ya, kita sudah melewatinya sepuluh tahun. Aku bahagia sekali malam ini, terima kasih ya Mas... “, ungkap Aini saat mereka makan malam di sebuah restoran.
 “Ya sayang, Mas juga bersyukur sekali atas segala nikmat yang Allah karuniakan. Kehadiranmu, anak-anak, sebuah rumah meskipun sederhana, dan semuanya yang telah Allah titipkan kepada kita, alhamdulillah ... “, Rangga lalu menggenggam erat tangan istrinya.
“Inget ga Mas, waktu awal-awal nikah kita sering makan di warung sotonya Mang Eem. Karena tempatnya yang selalu rame kita sering ga kebagian tempat, malah sering juga kehabisan”
“Iya ya, habis ga ada pilihan lain, yang murah dan enak ya disitu itu”, Rangga menimpali. Dan mereka pun tertawa mengingat masa-masa itu. Di sela pembicaraan aini mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. “Ini buat Mas”
“Wah apa nih..”, Rangga yang terlihat sedikit kaget tapi juga sangat senang karena diberi hadiah. “Mas bahkan ga sempat beli apa-apa buatmu”, ungkapnya dengan perasaan tidak enak.
“Ngga apa-apa Mas, emang udah disiapin. Lagian aku udah sering dikasih hadiah, sekarang gantian ..”
Hadiah meskipun ia tidak mahal, namun bisa menjadi sebuah bentuk ungkapan kasih sayang yang cukup berarti bagi yang menerimanya. Seperti kata Rasulullah ‘tahaaduu tahabbuu’, saling memberi hadiahlah, maka kalian saling akan saling mencintai. Dan juga karena mencintai adalah memberi,  memberi dengan segenap ketulusan hati kepada yang dicintai, apapun itu.
“Masya Allah Aini, ini kan jam yang Mas pengen beli waktu itu ..”, yang diberi hadiah kembali sumringah melihat pemberian istrinya itu. Ya, beberapa waktu yang lalu Rangga sempat ingin membeli sebuah jam tangan yang sangat ia idamkan. Tapi karena kepentingan lain, akhirnya ia memutuskan tidak jadi membelinya.
“Mudah-mudahan Mas suka ..”
“Duh ini mah bukan suka lagi, tapi suka bingiiiittss ..”. Aini tersenyum geli melihat tingkah suaminya itu. “Tapi kamu uang dari mana sayang, uang belanja aman-aman aja kan?”, terlihat wajahnya menyimpan sedikit kegelisahan.
“Insya Allah masih aman terkendali semuanya ..”, jawab Aini tenang
“Terus, buat yang lain juga sudah semua kan? Orang tua Mas, orang tuamu, uang sekolah si  Fikri, terus ..”, ujar Rangga sambil mengingat-ngingat. Masya Allah suamiku, itulah yang semakin membuatku semakin menyayangimu setiap saat. Tidak ada satupun orang-orang yang kau sayangi, yang ingin kau luputkan dari perhatianmu. Orang tuamu, orang tuaku, Fikri yang sejak umur tujuh tahun menemani dan menjadi tanggung jawab kita, dan semuanya. Bagaimana kau memperlakukan orangtuaku seperti orangtuamu sendiri. Bukan jumlah atau besarnya pemberian pada mereka yang jadi tolak ukur, tapi bentuk kepedulian dan perhatianmu itulah yang amat sangat aku hargai.
“Alhamdulillah Mas semua yang jadi amanah kita sudah ditunaikan, jangan panik gitu deh ..”, Aini mencoba menggoda suaminya.
“Alhamdulillah ... jazakallahu khoir ya ummu Ayyash ..”, Rangga kembali memegangi erat tangan istrinya, sambil tersenyum yang paliing manis.
“Tapi Mas, berhubung BBM naik, harga barang-barang malah udah naik duluan, beberapa tagihan bulanan juga ada kenaikan. Aku juga sudah berusaha sehemat mungkin tapi susah juga. Jadi ... bulan depan aku sangat berharap uang belanja juga dinaikkan ya Mas hehe”, ujar Aini sedikit bercanda namun wajahnya penuh harap
“Ohh .. “, Rangga menghela nafas, wajahnya yang tadi sangat ceria berubah menjadi tak berekspresi. Sedikit kaget mungkin, tapi memang itulah realita yang harus dihadapinya sebagai kepala keluarga :D
“Iya deh, insya Allah mudah-mudah bulan depan bisa naik uang belanjanya hiks”, lanjut Rangga sambil menyeruput habis minumannya.
“Alhamdulillah, makasih ya Maass... “, Aini  memberi senyuman termanis untuk suaminya.
“Oh ya, tadi Mas ketemu sama Nadia”, Rangga kembali membuka percakapan.
“Nadia??”, kening Aini sedikit berkerut mendengar nama itu, karena sedikit banyak ia telah mendengar cerita tentang wanita itu dari Rangga. Yang ditanyapun akhirnya menceritakan semua yang telah ia ketahui. Dan kini wajah Aini yang berubah menjadi datar. Antara prihatin dan juga simpati dengankisah hidupnya, tapi juga bercampur dengan rasa cemburu yang mungkin tak beralasan.
.
  
*kok jadi mirip novel bang jonru ya, dikit sih miripnya
  tapi yang pasti  bagusan novelnya beliaulah :D
  ternyata bukan bukan cuma wajah manusia yang kadang bisa mirip didunia ini
  tapi pemikiran pun bisa sama ternyata...
  







No comments:

Post a Comment