Search This Blog

Popular Posts

Sunday, October 12, 2014

My beloved family (I)


Remember our tenth anniversary today?
Anak-anak semua lagi di rumah neneknya.  
               So,  ntar malem kita jadi ngedate ya ^^

Rangga tersenyum kecil membaca sebuah isi pesan singkat yang baru saja masuk ke handphonenya.    
Kau tetap tidak berubah Aini, gumamnya dalam hati. Sama  seperti Aini yang baru kukenal sepuluh tahun yang lalu. Tetap kekanak-kanakan dan manja namun sangat perhatian, pada diriku dan juga anak-anak kita. Dan hal itu  jugalah yang membuat diriku tetap bersemangat, menjalani hari-hariku sebagai seorang suami dan juga ayah dari anak-anak kita. Dan terlebih lagi sebagai makhlukNya, yang tak lepas dari semua kewajiban-kewajiban yang harus dijalankan dan telah diamanahkanNya.  Tidak hanya sebagai seorang istri, dan juga ibu dari anak-anakku,  bagiku kau juga adalah  sahabat sejatiku. Yang setia mendengar semua keluh kesahku, cerita-ceritaku, yang senantiasa menyemangatiku dan juga menasehatiku dengan segala ketulusanmu, saat diriku sedang dilanda kebingungan atau kepenatan.  Thanks for everything my dear .. gumamnya penuh syukur dalam hati.

Yes my dear, I remember it. Just wait for me. Luv u  ..
Pesan balasan segera dikirim.

Setelah melaksanakan sholat Maghrib, Rangga segera melangkahkan kakinya untuk pulang agar bisa segera tiba di rumah dan menjemput istrinya untuk keluar malam ini. Memang sudah dua hari ini ia tidak bertemu dengan Aini  karena tugas ke luar kota. Dan tadipun setelah tiba di bandara, ia memang tidak pulang ke rumah, tapi langsung ke kantor. Ada hal yang harus ia segera selesaikan. Dan sebenarnya bukan karena hanya momen sepuluh tahun pernikahan ini saja  ia ingin merayakannya bersama dengan Aini, tapi memang karena sudah berapa kali ia terpaksa harus membatalkan janji dengan istrinya itu karena alasan pekerjaan. Dan ia cukup merasa bersalah akan hal ini.

Namun baru beberapa langkah setelah keluar dari lift, tiba-tiba sebuah suara memanggil namanya. Sang pemilik nama pun lalu menghentikan langkahnya dan mengalihkan pandangannya menuju asal suara. Dengan seksama ia pun memandangi wajah wanita itu yang kemudian berjalan mendekatinya itu.

“Kamu ingat aku kan ??”, tanya wanita itu. Rangga terdiam sejenak. Ingatannya kembali pada masa lalu. Saat gelora jiwanya masih membara dan begitu menggebu untuk meraih cita dan cinta. Saat ia masih berada di bangku kuliah dan aktif di sebuah organisasi dakwah kampus, dimana ia menjabat sebagai ketua dan Nadia sebagai sekretarisnya.  Tentu saja aku masih sangat ingat Nadia...  gumamnya dalam hati. Kau yang pernah menjadi wanita yang sangat kukagumi saat itu, dan juga amat sangat kuharapkan untuk menjadi pendampingku, ibu dari anak-anakku suatu saat nanti. Namun kenyataannya, kau juga yang membuat diriku terluka dan  seperti kehilangan arah. Karena  dirimu lebih memilih laki-laki pilihan orang tuamu dari pada aku. Seandainya kau tahu Nadia, betapa sangat terpuruknya diriku saat itu. Entahlah, mungkin karena memang jiwaku yang masih labil untuk menghadapi kenyataan hidup, atau karena aku yang memang terlalu berharap padamu. Ah sudahlah, tidak ada yang salah dengan semuanya. Intinya kau memang tidak ditakdirkan untukku. Namun akupun sangat bersyukur, karena Ia telah menggantinya dengan mengirimkan seorang bidadari untukku. Yang sangat mencintaiku dan juga sangat kucintai saat ini, Aini. Qadarullah wama sya’a fa’ala ...

“Tentu saja Nadia aku ingat, apa kabar ?”, tanya Rangga datar, namun ia tetap berusaha untuk tersenyum.

“Alhamdulillah baik.. aku melihatmu tadi di mushola. Setelah kuperhatikan ternyata ini memang dirimu“, Nadia menjelaskan. “Oh, ya aku juga minta maaf untuk..”. 

“Sudahlah, aku sudah melupakan semuanya. Oh ya, tidak menyangka bisa bertemu denganmu. Kamu ngantor di gedung ini juga?’, Rangga mengalihkan pembicaraan.  Karena  jujur saja, ia sangat tidak ingin mengenang kembali masa lalunya itu. 

“Ya, aku sudah  dua tahun disini. Sepertinya kamu yang baru ya, karena selama aku bekerja disini belum pernah melihatmu”

“Iya, baru  satu minggu aku ditempatkan pada cabang perusahaan di sini. Oh, ya sudah berapa  anakmu Nad?”, tanya Rangga kembali mencairkan susana. Tapi yang ditanya malah diam, lalu menunduk. Setelah diam beberapa saat ia lalu mulai bicara. “Pernikahanku gagal, aku telah berpisah dengan suamiku. Pernikahan kami hanya bertahan sesaat”, Nadia menjelaskan dan terlihat  berusaha menahan tangisnya. “Mantan suamiku ternyata bukan orang yang baik, prilakunya buruk dan ia lebih sering menyakitiku, dan sepertinya ia memang tidak pernah mencintaiku sama sekali”, sebutir bening pun mengalir dari sudut matanya.
Rangga cukup terkejut mendengar cerita dari wanita yang ada di hadapannya itu. Namun ia juga hanya bisa terdiam.  Semua adalah takdirNya, desisnya dalam hati. Innalillaah ...

“Maaf Nadia, aku memang tidak pernah mendengar tentang kisahmu. Aku turut prihatin. Kau harus tetap sabar, mudah-mudahan Allah akan mengantinya dengan memberikan pasangan yang lebih baik untukmu”, ujar Rangga berusaha menenangkan. Perlahan Nadia pun terlihat tenang kembali sambil sesekali menyeka air matanya.

“Makasih Ngga. Oh ya, kamu sudah menikah?”, tiba-tiba pertanyaan itu begitu saja muncul dari mulut Nadia. Namun ia merasa sepertinya ada yang salah dengan pertanyaannya. “Maaf, perntanyaanku seharusnya bukan seperti itu”, ia menunduk.

“Ya Nad, aku sudah menikah sepuluh tahun yang lalu. Dan alhamdulillah, telah dikaruniai dua orang anak, laki-laki dan perempuan”, Rangga coba menjelaskan.

“Betapa beruntungnya dan betapa bahagianya dirimu Ngga. Andai saja aku. ..”

“Sudahlah Nad, jangan pernah menyesali apa yang sudah terjadi. Mudah-mudahan kelak kaupun bisa merasakan kebahagiaan yang sama”.

“Aamiin, jazakallah khoir akhi ...”, ujar Nadia sambil tersenyum. Rangga tersenyum tapi hanya sesaat. Ia segera mengalihkan pandangannya.




                                                                                             Bekasi, Januari 2014


No comments:

Post a Comment