Remember our tenth anniversary today?
Anak-anak semua lagi di rumah neneknya.
So, ntar malem kita jadi ngedate ya ^^
So, ntar malem kita jadi ngedate ya ^^
Rangga
tersenyum kecil membaca sebuah isi pesan singkat yang baru saja masuk ke
handphonenya.
Kau tetap tidak berubah Aini, gumamnya dalam
hati. Sama seperti Aini yang baru kukenal
sepuluh tahun yang lalu. Tetap kekanak-kanakan dan manja namun sangat perhatian,
pada diriku dan juga anak-anak kita. Dan hal itu jugalah yang membuat diriku tetap bersemangat,
menjalani hari-hariku sebagai seorang suami dan juga ayah dari anak-anak kita.
Dan terlebih lagi sebagai makhlukNya, yang tak lepas dari semua kewajiban-kewajiban
yang harus dijalankan dan telah diamanahkanNya.
Tidak hanya sebagai seorang istri, dan juga ibu dari anak-anakku, bagiku kau juga adalah sahabat sejatiku. Yang setia mendengar semua
keluh kesahku, cerita-ceritaku, yang senantiasa menyemangatiku dan juga
menasehatiku dengan segala ketulusanmu, saat diriku sedang dilanda kebingungan
atau kepenatan. Thanks for everything my dear .. gumamnya penuh syukur dalam hati.
Yes my dear, I remember it. Just wait for
me. Luv u ..
Pesan balasan
segera dikirim.
Setelah melaksanakan sholat Maghrib, Rangga segera melangkahkan kakinya untuk pulang agar bisa segera tiba di rumah dan menjemput istrinya untuk keluar malam ini. Memang sudah dua hari ini ia tidak bertemu dengan Aini karena tugas ke luar kota. Dan tadipun setelah tiba di bandara, ia memang tidak pulang ke rumah, tapi langsung ke kantor. Ada hal yang harus ia segera selesaikan. Dan sebenarnya bukan karena hanya momen sepuluh tahun pernikahan ini saja ia ingin merayakannya bersama dengan Aini, tapi memang karena sudah berapa kali ia terpaksa harus membatalkan janji dengan istrinya itu karena alasan pekerjaan. Dan ia cukup merasa bersalah akan hal ini.
Namun baru
beberapa langkah setelah keluar dari lift, tiba-tiba sebuah suara memanggil
namanya. Sang pemilik nama pun lalu menghentikan langkahnya dan mengalihkan
pandangannya menuju asal suara. Dengan seksama ia pun memandangi wajah wanita
itu yang kemudian berjalan mendekatinya itu.
“Kamu ingat
aku kan ??”, tanya wanita itu. Rangga terdiam sejenak. Ingatannya kembali pada
masa lalu. Saat gelora jiwanya masih membara dan begitu menggebu untuk meraih
cita dan cinta. Saat ia masih berada di bangku kuliah dan aktif di sebuah
organisasi dakwah kampus, dimana ia menjabat sebagai ketua dan Nadia sebagai
sekretarisnya. Tentu saja aku masih
sangat ingat Nadia... gumamnya dalam
hati. Kau yang pernah menjadi wanita yang sangat kukagumi saat itu, dan juga amat
sangat kuharapkan untuk menjadi pendampingku, ibu dari anak-anakku suatu saat
nanti. Namun kenyataannya, kau juga yang membuat diriku terluka dan seperti kehilangan arah. Karena dirimu lebih memilih laki-laki pilihan orang
tuamu dari pada aku. Seandainya kau tahu Nadia, betapa sangat terpuruknya
diriku saat itu. Entahlah, mungkin karena memang jiwaku yang masih labil untuk
menghadapi kenyataan hidup, atau karena aku yang memang terlalu berharap
padamu. Ah sudahlah, tidak ada yang salah dengan semuanya. Intinya kau memang
tidak ditakdirkan untukku. Namun akupun sangat bersyukur, karena Ia telah menggantinya
dengan mengirimkan seorang bidadari untukku. Yang sangat mencintaiku dan juga
sangat kucintai saat ini, Aini. Qadarullah
wama sya’a fa’ala ...
“Tentu saja
Nadia aku ingat, apa kabar ?”, tanya Rangga datar, namun ia tetap berusaha
untuk tersenyum.
“Alhamdulillah
baik.. aku melihatmu tadi di mushola. Setelah kuperhatikan ternyata ini memang
dirimu“, Nadia menjelaskan. “Oh, ya aku juga minta maaf untuk..”.
“Sudahlah, aku
sudah melupakan semuanya. Oh ya, tidak menyangka bisa bertemu denganmu. Kamu
ngantor di gedung ini juga?’, Rangga mengalihkan pembicaraan. Karena jujur saja, ia sangat tidak ingin mengenang
kembali masa lalunya itu.
“Ya, aku sudah dua tahun disini. Sepertinya kamu yang baru ya,
karena selama aku bekerja disini belum pernah melihatmu”
“Iya,
baru satu minggu aku ditempatkan pada cabang
perusahaan di sini. Oh, ya sudah berapa
anakmu Nad?”, tanya Rangga kembali mencairkan susana. Tapi yang ditanya
malah diam, lalu menunduk. Setelah diam beberapa saat ia lalu mulai bicara. “Pernikahanku
gagal, aku telah berpisah dengan suamiku. Pernikahan kami hanya bertahan
sesaat”, Nadia menjelaskan dan terlihat berusaha menahan tangisnya. “Mantan suamiku
ternyata bukan orang yang baik, prilakunya buruk dan ia lebih sering
menyakitiku, dan sepertinya ia memang tidak pernah mencintaiku sama sekali”,
sebutir bening pun mengalir dari sudut matanya.
Rangga cukup terkejut mendengar
cerita dari wanita yang ada di hadapannya itu. Namun ia juga hanya bisa
terdiam. Semua adalah takdirNya,
desisnya dalam hati. Innalillaah ...
“Maaf Nadia,
aku memang tidak pernah mendengar tentang kisahmu. Aku turut prihatin. Kau harus
tetap sabar, mudah-mudahan Allah akan mengantinya dengan memberikan pasangan
yang lebih baik untukmu”, ujar Rangga berusaha menenangkan. Perlahan Nadia pun
terlihat tenang kembali sambil sesekali menyeka air matanya.
“Makasih Ngga.
Oh ya, kamu sudah menikah?”, tiba-tiba pertanyaan itu begitu saja muncul dari
mulut Nadia. Namun ia merasa sepertinya ada yang salah dengan pertanyaannya.
“Maaf, perntanyaanku seharusnya bukan seperti itu”, ia menunduk.
“Ya Nad, aku
sudah menikah sepuluh tahun yang lalu. Dan alhamdulillah, telah dikaruniai dua
orang anak, laki-laki dan perempuan”, Rangga coba menjelaskan.
“Betapa beruntungnya
dan betapa bahagianya dirimu Ngga. Andai saja aku. ..”
“Sudahlah Nad,
jangan pernah menyesali apa yang sudah terjadi. Mudah-mudahan kelak kaupun bisa
merasakan kebahagiaan yang sama”.
“Aamiin,
jazakallah khoir akhi ...”, ujar Nadia sambil tersenyum. Rangga tersenyum tapi
hanya sesaat. Ia segera mengalihkan pandangannya.
Bekasi, Januari 2014
Bekasi, Januari 2014
No comments:
Post a Comment