Search This Blog

Popular Posts

Monday, January 30, 2012

My beloved husband ...

“Robb ... semoga Engkau selalu melindungi suamiku, menjaga dan memberkahi setiap langkahnya untuk menjemput rizqiMu yang halal dan berkah, amiin Allahumma amiin ... “. Demikian Aini mengkahiri Sholat Dhuhanya pagi itu dengan memanjatkan doa bagi suaminya yang sangat ia cintai. Sudah tiga hari ini suaminya tengah berada di luar kota, melaksanakan tugas dari kantor tempat ia bekerja. Dan meskipun sudah sering, tetap saja ia sangat merasa kehilangan jika harus ditinggalkan oleh suaminya. Perlahan Ia lalu mengambil sebuah foto yang berada di atas meja, foto mereka berdua, lalu didekapnya erat.

“Syukurku untuk setiap tetes nikmat yang Ia karuniakan, dan juga atas hadirnya dirimu dalam hidupku suamiku ... “, gumamnya dalam hati. Untuk setiap kesabaran, kasih sayang, dan perlindunganmu padaku selama ini. Dirimu benar-benar telah menjadi qowwam yang baik, teman sejati dan pelengkap hidupku, penyempurna sebagian dari dien ini

Aku ingat sekali saat-saat ketika kita baru menikah. Kita yang awalnya begitu malu untuk saling berdekatan atau bersentuhan. Memang tidak mengherankan, karena perkenalan kita memang singkat, dan tanpa pacaran seperti yang dilakukan oleh kebanyakan orang, dan sudah menjadi sesuatu yang lumrah. Dan alhamdulillah, kita bisa mencapai pernikahan ini tanpanya.

Saat itu, tanpa kau bisikkan pun aku tahu kau mencintaiku, karena hatiku bergetar saat berada di sampingmu. Meski tanpa untaian puisi, aku tahu dirimu sangat merindukanku, karena kulihat dari kesungguhanmu untuk menjadikanku pendamping halalmu. Kau pegang ubun-ubunku, sambil berdoa untuk kebaikan watakku dan mohon perlindungan dari kejahatan watakku. Lalu kau tuntun jemari ini, untuk bersama bersujud dan bermunajat padaNya, memohon agar keberkahan selalu tercurah untuk kehidupan rumah tangga kita kelak.
Kita yang hanya bercerita hingga larut malam, tentang dirimu dan juga diriku. Tentang kelurga kita, tentang semuanya. Dan aku tidak menyangka, engkau yang sepertinya terlihat kaku dan pendiam, ternyata bisa juga bersikap jenaka. Hingga akhirnya malam itu hanya kita habiskan untuk bercerita dan bergurau sampai pagi menjelang :D


Suka duka telah kita lalui bersama. Banyak hikmah dan pelajaran yang bisa ambil dari setiap episode kehidupan yang kita jalani. Seperti beberapa tahun lalu, saat aku menyuruhmu untuk mencari pendamping lagi. Karena sudah hampir tiga tahun, pernikahan kita belum juga dikaruniai keturunan. Sebenarnya tidak pernah sedikitpun terlintas dalam benakku untuk menyuruhmu demikian. Saat itu aku hanya ingin melihat dirimu bahagia. Karena pernah suatu ketika di tengah keheningan malam, aku yang tiba-tiba terjaga dari tidurku melihatmu sedang menangis padaNya, memohon dengan lirih agar rumah tangga kita segera dikaruniai buah hati. Dan akupun tak kuasa mendengarnya, hanya ikut menangis seraya mengaminkan setiap bait doa yang kau panjatkan. Hingga akhirnya aku berpikir bahwa cara yang terbaik bagimu adalah dengan menikah lagi. Walaupun mungkin itu akan melukaiku.
Tapi ternyata kau pun tak setega itu untuk melakukannya. Justru dirimu yang semakin menguatkan aku untuk tetap bersabar dan berprasangka baik atas semua kehendakNya. Dan sejak saat itu aku semakin menyadari bahwa dirimu adalah lelaki sholih yang telah Allah karuniakan padaku.

Sekarang kesedihan itu telah berlalu, sudah dua orang buah hati yang telah Ia karuniakan, serta seorang anak yatim yang masih famili, dan telah kita asuh sejak dua tahun lalu, juga turut meramaikan rumah tangga kita. Dan cukuplah semua anugerah ini sebagai surgaku di dunia ini, Maha Suci Allah untuk semua yang telah Ia karuniakan..

Selain itu yang membuatku semakin mengagumimu adalah dirimu yang masih tetap memiliki ghiroh dakwah. Semangat untuk berdakwah yang memang kau miliki sejak masih kuliah dulu dengan aktif di lembaga dakwah kampus. Saat ini tidak lagi mahasiswa yang menjadi sasaranmu, tapi warga di sekitar rumah di tempat kita tinggal. Mengajak para suami untuk ta’lim bersama sekali dalam sepekan. Karena selama ini pengajian sepertinya hanya diharuskan untuk ibu-ibu saja, padahal tidak seperti itu seharusnya. Memang sangat tidak mudah untuk menyeru kebaikan kepada orang lain. Karena jangankan orang lain, pada keluarga sendiri kadang kita sulit untuk mengajaknya, atau saat kefuturan melanda, diri sendiri pun jadi sulit untuk tetap konsisten beribadah dengan maksimal. Meski awalnya memang sulit untuk memulai, tapi dirimu tetap bersemangat. “Dakwah adalah cinta, dan cinta akan meminta semuanya darimu. Sampai pikiranmu. Sampai perhatianmu. berjalan, duduk dan tidurmu”, ujarmu saat itu mengutip kata-kata almarhum Ust. Rahmat Abdullah. “Jika kita mampu, mengapa kita tidak turut andil dalam dakwah ini. Dengan cara apapun, lewat media apapun yang kita mampu untuk melakukannya. Jika bukan diriku, pasti akan ada orang lain yang akan melakukannya, sebab Allah lah yang menjaga dakwah ini. Kitalah sesungguhnya yang membutuhkan dakwah. Yakinlah sayangku, semua ini tidak akan sia-sia dalam penilaianNya ...”, katamu sambil mengganggam erat jemariku, seolah ingin meyakinkanku dengan apa yang engkau lakukan. Ah suamiku, sungguh beruntung aku memilikimu.

“Ummii.......”, teriakan Ayyash putra sulungnya yang kini tengah beranjak lima tahun tiba-tiba membuyarkan lamunannya. Nama Ayyash yang diambil dari seorang pejuang Hamas, Yahya Ayyash yang syahid membela negerinya, tanah Al Quds yang suci dan telah Allah berkahi sekelililngnya. Negeri para anbiya, negeri yang di atas tanahnya ada bagunan suci umat muslim, dan  negeri yang hingga sekarang masih terluka karena darah masih saja terus mengalir di tempat ini. Berharap kelak Ayyash kecilku pun memiliki jiwa seperti seorang mujahid. Yang berani dan tak gentar membela yang haq, tidak takut mempertahankan kebenaran dari segala bentuk kedholiman dan keserakahan.

“Ini buat Ummi”, katanya sambil menyerahkan setangkai mawar pada umminya. Aini pun menerimanya sambil terheran-heran. “Bunga ini dari orang yang sangat mencintai Ummi....”, kata Ayyash dengan polosnya.
“Abi maksudnya? Abi kan pergi sayang ... “, kata Aini lalu meletakkan Ayyash ke pangkuannya.
“Assalamu’alaikum ....”, tiba-tiba saeorang pria datang sambil menggendong Aisha putri ke dua mereka. “Alhamdulillah, kerjaan Abi udah selesai, jadi bisa pulang lebih cepat. Lagian kalau seminggu kan kelamaan, nanti Ummi jadi mikirin Abi terus hehe :p ”, kata Rangga menggoda istrinya. Yang digoda hanya bisa tersipu malu sambil meraih dan menciumi tangan suaminya.

Suamiku, sungguh aku mencintaimu karenaNya. Karena kesholihanmu dan juga atas semua bentuk penghargaanmu padaku. Izinkan diri ini untuk mencintai dan mendampingimu hingga akhir hayatku, sampai nafasku terhenti. Dan kelak di negeri yang kekal akupun ingin tetap selau bersamamu, mendampingi dirimu, bi idznillaah....

Robbi ... semoga kebahagiaan ini tidak akan berakhir. Rahmatilah dan berkahilah rumah tangga kami, kumpulkan kami kembali kelak di jannahMu, dan golongkan kami sebagai hamba-hambaMu yang beruntung, yang Kau izinkan kelak untuk bertemu dan menatap kemuliaan wajahMu, aamiin Allahumma aamiin ......

4 comments:

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  3. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  4. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete