Rangga sedang memperhatikan motornya yg masih diperbaiki oleh seorang montir. Saat perjalanan pulang dari rumah sakit untuk memeriksakan kehamilan istrinya tadi, tiba-tiba saja motornya mogok.
Pandangan Rangga lalu tertuju pada sebuah toko bunga di seberang jalan sana. Lalu ia teringat akan sesuatu. “Ya Allah hari ini …”, katanya setengah kaget. Ia lalu berjalan menuju ke arah toko bunga itu.
Beberapa saat kemudian, “Dik tolong berikan bunga ini ke wanita itu ya”, kata Rangga kepada perempuan kecil yg baru saja mengamen di hadapannya dan orang-orang yang ada di bengkel itu, sambil memberika setangkai bunga mawar lalu menunjuk ke arah seorang wanita yang tampak sedang makan dan berbicara dengan seorang ibu di sebuah kedai soto.
“Yang mana Oom? Yang pake jilbab pink apa yang biru?” tanya pengamen kecil itu menegaskan
“Yang biru itu dik, yang lagi berkibar-kibar ditiup angin kayak bendera. Tolong ya, bilang ini dari sesorang yang sangat mencintai dirinya”, katanya dengan senyuman dan memberi selembar uang lima ribuan kepada si pengamen.
Si pengamen kecil itupun lalu pergi sambil mengibas-ngibaskan uang lima ribuan yang baru saja diterimanya.
“Ah istriku… “, desah Rangga. “Maafkan aku yang hingga detik ini masih belum bisa membuatmu merasa bahagia. Bersyukur aku memiliki dirimu yang tidak banyak menuntut, sangat pengertian dan menerima diriku apa adanya. Sudah tiga tahun pernikahan kita, dan sekarang kau sedang mengandung calon buah hati yang telah kita idam-idamkan selama ini. Alhamdulillah, Allah telah mengijabah doa-doa kita. Aku ingat sekali waktuu itu, pernah kau memintaku untuk menikah lagi, karena sudah dua tahun kita menikah tapi belum juga dikaruniai buah hati. Sebab dokter pun menyatakan bahwa kita berdua tidak bermasalah.
“Gimana mas, ada yang cocok?”, tanyamu pada saat yang lain setelah memberiku beberapa lembar biodata teman mengajimu yang belum menikah.
Dirimu sedang bercanda atau serius aku sendiri jadi bingung. Dasar wanita aneh, saat wanita lain meminta cerai ketika suaminya menikah lagi, dirimu malah menyuruhku. Duhai istriku, bagiku kehadiran dirimu sudah cukup membuatku bahagia. Meskipun terkadang sifat manjamu yang kekanak-kanakan itu muncul, atau sikap melankolismu yang terkadang berlebihan, tapi juga cukup menghiburku di kala kepenatan pikiranku melanda. Pengertian dan kesabaranmu hidup bersamaku cukup membuatku mengerti bahwa dirimu adalah wanita sholihah yang dikaruniakan Allah padaku. Tidak perlu lagi ada yang lain.
“Aini … insya Allah aku masih sabar menunggu. Mungkin memang belum waktunya kita dikaruniai anak. Semua ada hikmahnya, tidak perlu kamu melakukan ini semua. Tidak semua yang kita inginkan sama dengan kehendakNya. Sabar ya …”.
Saat itu kuharap kata-kata itu cukup membuatmu mengerti bahwa dirimu memang tak perlu melakukan ini semua.
“Tapi mas, Insya Allah aku ridho jika dirimu ingin beristri lagi …”, kata-kata itu keluar begitu saja, namun disertai air mata yang mengalir perlahan dari sudut matamu. Bagaimanapun kau tetap tidak bisa membohongiku Aini. Dirimu pasti terluka jika aku benar-benar melakukannya. Segera kudekap dirimu, dan membiarkanmu menangis di dadaku.
Dan sekarang, Alhamdulillah, sudah hampir empat bulan janin itu berada dalam kandunganmu. Dan artinya, kurang lebih lima bulan lagi aku akan menjadi seorang ayah, biidznillaah…..
Rangga tertegun dari lamunannya ketika handphonenya bergetar, pertanda bahwa ada pesan singkat yang masuk.
“Syukron katsiron ya Mas.. ternyata dirimu tidak lupa hari ini.. I luv u ”. Sms itu membuat Rangga tersenyum, lalu mengarahkan pandangannya ke arah Aini yang saat itu juga sedang menatapnya dari jauh. Keduanya saling berpandangan, teduh, dan penuh kasih.
Istriku, belahan jiwaku ... cintamu, kasih sayangmu, perhatianmu selalu kurindukan. Ingatkan diri ini jika khilaf atau pun lalai akan kewajibanku, sebagai pendampingmu terlebih lagi sebagai makhlukNya yang dhoif. Agar kelak di hadapanNya nanti, saat segalanya akan dimintai pertanggungjawaban, diriku dapat mempertanggungjawabkan segalanya dengan sebaik-baiknya, atas dirimu dan anak-anak kita, meskipun sangat jauh dari kesempurnaan.
Robb … rahmatilah cinta ini, kami mengharap ridhoMu dalam setiap langkah ikhtiar menapaki jalan hidup, menyempurnakan ketaqwaan diri kepadaMu, Allahumma aamiin………….
Pandangan Rangga lalu tertuju pada sebuah toko bunga di seberang jalan sana. Lalu ia teringat akan sesuatu. “Ya Allah hari ini …”, katanya setengah kaget. Ia lalu berjalan menuju ke arah toko bunga itu.
Beberapa saat kemudian, “Dik tolong berikan bunga ini ke wanita itu ya”, kata Rangga kepada perempuan kecil yg baru saja mengamen di hadapannya dan orang-orang yang ada di bengkel itu, sambil memberika setangkai bunga mawar lalu menunjuk ke arah seorang wanita yang tampak sedang makan dan berbicara dengan seorang ibu di sebuah kedai soto.
“Yang mana Oom? Yang pake jilbab pink apa yang biru?” tanya pengamen kecil itu menegaskan
“Yang biru itu dik, yang lagi berkibar-kibar ditiup angin kayak bendera. Tolong ya, bilang ini dari sesorang yang sangat mencintai dirinya”, katanya dengan senyuman dan memberi selembar uang lima ribuan kepada si pengamen.
Si pengamen kecil itupun lalu pergi sambil mengibas-ngibaskan uang lima ribuan yang baru saja diterimanya.
“Ah istriku… “, desah Rangga. “Maafkan aku yang hingga detik ini masih belum bisa membuatmu merasa bahagia. Bersyukur aku memiliki dirimu yang tidak banyak menuntut, sangat pengertian dan menerima diriku apa adanya. Sudah tiga tahun pernikahan kita, dan sekarang kau sedang mengandung calon buah hati yang telah kita idam-idamkan selama ini. Alhamdulillah, Allah telah mengijabah doa-doa kita. Aku ingat sekali waktuu itu, pernah kau memintaku untuk menikah lagi, karena sudah dua tahun kita menikah tapi belum juga dikaruniai buah hati. Sebab dokter pun menyatakan bahwa kita berdua tidak bermasalah.
“Gimana mas, ada yang cocok?”, tanyamu pada saat yang lain setelah memberiku beberapa lembar biodata teman mengajimu yang belum menikah.
Dirimu sedang bercanda atau serius aku sendiri jadi bingung. Dasar wanita aneh, saat wanita lain meminta cerai ketika suaminya menikah lagi, dirimu malah menyuruhku. Duhai istriku, bagiku kehadiran dirimu sudah cukup membuatku bahagia. Meskipun terkadang sifat manjamu yang kekanak-kanakan itu muncul, atau sikap melankolismu yang terkadang berlebihan, tapi juga cukup menghiburku di kala kepenatan pikiranku melanda. Pengertian dan kesabaranmu hidup bersamaku cukup membuatku mengerti bahwa dirimu adalah wanita sholihah yang dikaruniakan Allah padaku. Tidak perlu lagi ada yang lain.
“Aini … insya Allah aku masih sabar menunggu. Mungkin memang belum waktunya kita dikaruniai anak. Semua ada hikmahnya, tidak perlu kamu melakukan ini semua. Tidak semua yang kita inginkan sama dengan kehendakNya. Sabar ya …”.
Saat itu kuharap kata-kata itu cukup membuatmu mengerti bahwa dirimu memang tak perlu melakukan ini semua.
“Tapi mas, Insya Allah aku ridho jika dirimu ingin beristri lagi …”, kata-kata itu keluar begitu saja, namun disertai air mata yang mengalir perlahan dari sudut matamu. Bagaimanapun kau tetap tidak bisa membohongiku Aini. Dirimu pasti terluka jika aku benar-benar melakukannya. Segera kudekap dirimu, dan membiarkanmu menangis di dadaku.
Dan sekarang, Alhamdulillah, sudah hampir empat bulan janin itu berada dalam kandunganmu. Dan artinya, kurang lebih lima bulan lagi aku akan menjadi seorang ayah, biidznillaah…..
Rangga tertegun dari lamunannya ketika handphonenya bergetar, pertanda bahwa ada pesan singkat yang masuk.
“Syukron katsiron ya Mas.. ternyata dirimu tidak lupa hari ini.. I luv u ”. Sms itu membuat Rangga tersenyum, lalu mengarahkan pandangannya ke arah Aini yang saat itu juga sedang menatapnya dari jauh. Keduanya saling berpandangan, teduh, dan penuh kasih.
Istriku, belahan jiwaku ... cintamu, kasih sayangmu, perhatianmu selalu kurindukan. Ingatkan diri ini jika khilaf atau pun lalai akan kewajibanku, sebagai pendampingmu terlebih lagi sebagai makhlukNya yang dhoif. Agar kelak di hadapanNya nanti, saat segalanya akan dimintai pertanggungjawaban, diriku dapat mempertanggungjawabkan segalanya dengan sebaik-baiknya, atas dirimu dan anak-anak kita, meskipun sangat jauh dari kesempurnaan.
Robb … rahmatilah cinta ini, kami mengharap ridhoMu dalam setiap langkah ikhtiar menapaki jalan hidup, menyempurnakan ketaqwaan diri kepadaMu, Allahumma aamiin………….
No comments:
Post a Comment